Kelahiran Drama Tari Pewayangan Sutasoma yang Berjudul “Purusada Santha”

23

SULUH BALI, Gianyar – Tidak terasa sudah satu bulan Pagelaran Seni “Bhineka Tunggal Ika” telah berlangsung. Acara yang dibuka pada tanggal 5 Agustus lalu ini menyita banyak perhatian publik, pasalnya pagelaran ini merupakan kelahiran dari drama tari pewayangan Sutasoma dengan judul “Purusada Santha”.

Dikerjakan dengan baik dan seksama oleh I Made Sukadana, I Wayan Purwanto dan I Wayan Jaya Merta dengan menciptakan sebuah koreografi, topeng dan musik yang baru. Dalam drama ini dikisahkan perjalanan calon Buddha dilahirkan kembali sebagai Sutasoma, dan juga tercetusnya konsep “Bhineka Tunggal Ika” itu dalam kisah perjalanannya.Selain ada pementasan tari, pagelaran ini diikuti juga pameran lukisan, fotografi dan juga topeng. Event ini diadakan diRumah Topeng Wayang Setia Darma, Tegal Bingin, Ganyar.

“Ide awalnya timbul karena kegalauan terhadap kondisi yang ada sekarang ini, banyak yang tidak toleran satu dengan yang lain,” jelas Doddy Obenk selaku penggagas dari Pagelaran Seni “Bhineka Tunggal Ika”.

Ada beberapa fotografer-fotografer profesional yang turut andil didalam acara ini. Mereka mengabadikan setiap momen disaat para penari sedang berlatih, ada yang memotret para penari dan tidak sedikit yang memotret topeng-topeng yang digunakan penari.

Seperti Firmansyah Cakman atau yang akrap disapa Cakman. Berawal dari ajakan untuk bergabung, Cakman pun langsung menyanggupinya tanpa pikir panjang. Ada 2 foto yang dipamerkan olehnya, yang pertama berjudul “Pakadi Tunggal” dan yang kedua “Tunggal Bani Asa”. Cukup berbeda dibanding yang lain, karena Cakman memilih pengambilan gambar hitam putih, lalu menggunakan media kertasnya silver paper, jadi warna putih menjadi silver dan hanya menangkap warna hitamnya saja. “Saya lebih fokus mengambil gambar topengnya saja, seperti “Pakadi Tunggal” masing-masing penari memegang satu topeng. Lalu “Tunggal Bani Asa” topeng yang lagi ditinggalin dan saya gunakan baground penarinya tapi diblurin. Makna “Tunggal Bani Asa” sendiri yaitu harapan menjadi satu, berharap menyatu dengan penarinya,” jelas Cakman.

Lain halnya dengan Stefanus Bayu, Bayu lebih tertarik dengan penari Jepang yang ambil bagian di acara ini. “Saya ingin menunjukan kalau kita benar-benar punya keragaman yang berbeda-beda, seperti yang saya foto ini orang dari luar mau menarikan budaya kita secara detil dan secara fasih, itu keren saja menurut saya,” akui Bayu dengan bangga.

Pagelaran Seni “Bhineka Tunggal Ika” ini akan menampilkan 3 pagelaran tari yaitu Sutasoma, Sunda Upasunda dan Purwa Sandhi Naya. Selain pagelaran tari, dipamerkan pula karya Lontar Sutasoma dari I Wayan Mudita Adnyana, 17 topeng karya Cokorda Raka Sedana, Lukisan dari Nyoman Wijaya dan karya fotografi dari 15 fotografer yang merespon tarian Sutasoma, Sunda Upasunda dan Purwa Sandhi Naya dan tema Bhineka Tunggal Ika.

“Saya cukup sangat puas dengan apa yang dipentaskan, pertama kali bisa seperti ini sempurna. Saya pikir Sutasoma ini akan saya pentaskan di tempat-tempat lain, saya akan coba cari tempat, karena tarian ini mengingatkan kita terhadap kasih sayang,” tambah Doddy. (SB-cas)

Comments

comments