Suasana jumpa wartawan (foto cas)

SULUH BALI, Denpasar – Meningkatnya angka pecandu setiap tahunnya dan trend jenis narkotika baru yang terus berkembang. Over capacity di Lapas dan Rutan masih terjadi, peredaran narkotika legal di apotek tidak terkontrol, pelarangan membabi buta terhadap orang-orang yang memang membutuhkan untuk kebutuhan penyembuhan terhadap penyakit yang dideritanya. Meningkatnya angka pecandu setiap tahunnya dan trend jenis narkotika baru yang terus berkembang, serta masih banyak isu lain diluaran sana.

Secara kebijakan di atas kertas memang hal tersebut sudah jelas, hanya saja pada tataran implementasi masih sangat berat. Dalam pelaksanaan rehabilitas melibatkan berbagai bagian dari pemerintah, mulai dari BNN, Kepolisian, Kejaksaan, Hakim, Kemenkes, Kemensos dan Institusi pelaksana rehabilitas.

Menurut Erijadi Sulaeman selaku Ketua IKAI Bali mengatakan, bahwasanya tidak banyak pecandu yang secara sukarela mau untuk melaporkan diri sebagai pecandu, baik melaporkan ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) baik yang di bawah Kemenkes RI atau di bawah Kemensos RI, dan ini yang menjadi salah satu tantangannya.

“Memang menetapkan apakah seseorang terbukti sebagai pecandu di depan hukum memang tidak mudah,” tambah Erijadi.

Sejak tahun 1997 kita sudah menerapkan pemenjaraan terhadap pecandu hingga saai ini, tetapi harapan agar angka pecandu menurun jauh dari harapan belum terlihat hasilnya. Bahkan setiap tahunnya angka pecandu terus meningkat. Kita bisa mengadopsi strategi yang telah digunakan oleh negara lain yang sudah berhasil dalam menekan peredaran gelap dengan cara mengatur narkotika secara jelas dan tegas. Kecanduan sendiri merupakan penyakit yang idealnya mendapatkan perawatan bukan penghukuman.

Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba) pada Sabtu (30/6) lalu, mengundang narasumber dari Ikatan Koselor Adiksi Indonesia (IKAI) Bali, serta perwakilan dari Yayasan Gaya Dewata (YGD), Fokus Muda, OPSI bali, IPPI Bali, JIP Bali, IKON Bali, Meteor, IKLIM dan KDS Setia Kawan, serta rekan-rekan media membahas ‘Refleksi Kebijakan Narkotika pada Area perawatan-Rehabilitasi’.

“Kami memilih tema tersebut karena setelah pemerintah melakukan kampanye penyelamatan terhadap pecandu pada 2014 lalu, hingga saat ini masih banyak pecandu yang dikirim ke lapas dan rutan,” tutur Fair perwakilan dari Yakeba.

Situasi ini dapat dilihat dari jumlah kasus yang ditangani oleh BNN maupun kepolisian. Sangat kecil presentase yang dikirim atau mendapatkan vonis rehabilitasi. Kalau pun ada rehabilitasinya masih dilakukan di lapas dan rutan, yang kita sendiri tahu bahwa lapas sudah terlalu over capacity untuk terus menampung warga binaan. (SB-cas)

 

Comments

comments