Kedua Anaknya Orasi Tolak Reklamasi Teluk Benoa | Pasek Suardika Pantau dari Kejauhan

1341
Kedua putra anggota DPD asal Bali Pasek Suardika sedang orasi di PB3AS) (foto humas.Bali).

SULUH BALI, Denpasar –– Podium Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) nampaknya semakin diminati para tokoh masyarakat untuk turut menyuarakan aspirasi masyarakat. Bila hari Minggu sebelumnya muncul anggota DPR RI Dhamantra dan Anggota DPD RI Arya Weda Karna.

Minggu (3/4/2015), tampil juga dua anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) bernama Ketut Rama Withadharma dan seorang lagi siswa di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Komang Alit Narayana. Bila pada PB3AS minggu minggu sebelumnya ada anak anak bicara tentang pentingnya penanggulangan sampah plastik, kedua anak ini bicara lantang tentang penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Setelah diselusuri, ternyata kedua anak ini adalah putra dari anggota DPD RI asal Bali Pasek Suardika. Sementara kedua anaknya berorasi, politisi asal Buleleng ini berdiri di kejauhan memantau.

Di akun facebook  https://www.facebook.com/gede.p.suardika mantan anggota Partai Demokrat ini, memberi penjelasan sebagai berikut :

 

Hiburan Politik Di Saat Liburan

Banyak yang bertanya setelah Berita dan foto Anak Saya muncul di sosial media usai orasi di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS).

Ada yang bertanya kenapa anaknya yang tampil Kok nggak Bapaknya? Mirip dengan keluhan Pak Gubernur di podium yang sama merespon orasi kedua Anak Saya. Ada juga yg menyatakan salut Anak-Anak sudah berani tampil orasi memperjuangkan kepentingan Bali dan Ada juga media yang secara Khusus mencoba mendagradasikan aksi orasi Anak Saya itu, khususnya media yang sejak awal medidikasikan dirinya untuk pendukung Reklamasi.

Ada juga para pendukung Reklamasi Di lapangan yang panik juga melakukan kritik soal penampilan Anak Saya tersebut. 
Bagi Saya, apapun komentar, penilaian, tanggapan atau kritikan Saya terima dengan senyum. Sebab yang pasti Saya melihat langsung di lapangan banyak memberi applaus terhadap orasi keduanya. 

Baik saat Ketut Rama Withadarma yang tampil duluan, maupun Komang Alit Narayana yang tampil kedua.

Saya sangat menikmati aksi kedua anak Saya tersebut dari kejauhan, termasuk memantau upaya oknum-oknum pendukung Reklamasi mencoba mengganggu mental Anak Saya saat dipodium.

Ternyata kelas mereka hanya segitu saja melawan tampilan Anak kecil yang berorasi menolak Reklamasi. Bagi Anak Saya, mereka sangat bangga uneg-unegnya menolak Reklamasi sudah tersalurkan. Mentalnya pun makin teguh dan kokoh menghadapi pressure.

Para pendukung Durek telah menjadi mitra latih tanding Anak-Anak Saya di lapangan tersebut. Sumpah serapah emosi mereka ternyata melatih Anak Saya makin yakin dengan sikapnya. Seakan-Akan menunjukkan bertemunya Dua kutub besar, yaitu: yang Anak-Anak dan Yang Kanak-kanak.

Bahkan Anak Saya sekarang sudah bersiap untuk adu debat dengan yang menilainya Anak kecil tidak mengerti Apa-Apa. Tantangannya pun lucu saat Saya dengar, Ayo debat kita Ketemu di Skype lewat online saja. Apa benar tidak mengerti apa-Apa?

Anak Jaman sekarang seringkali tidak dipahami oleh generasi penikmat Apalagi generasi yang uzur saat Ini. Mereka sudah tahu semua lewat internet. Bahkan Anak Saya sudah punya Teman Dari luar negeri hanya lewat Skype, Line atau main game online. Generasi yang jauh berbeda. Mereka sudah jauh berpikir dengan teknologi informasi.

Anak-anak berhak bicara nasib masa depan mereka, karena yang dilakukan masa kini juga berdampak Bagi mereka di masa nanti.

Aksi orasi kedua Anak Saya itu dalam posisi apapun Bagi yang menonton dan membacanya yang menyaksikan bisa menjadi Hiburan Politik di Saat Liburan. Hiburan karena memang orasi di podium tidak pernah untuk mengambil kesimpulan Apalagi keputusan. 

Semoga terhibur..!

Menurut informasi, Podium Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) adalah sebuah ajang untuk menyampaikan pendapat apa saja. Ajang ini difasilitasi oleh Pemprov Bali dan berlangsung setiap hari Minggu pagi di Lapangan Puputan Margarana, di sisi barat. (SB-tim).

Comments

comments