Kediatmikaan Canting Mas dan Siwer Mas, Ajaran Bhatari Durga

SULUH BALI, DenpasarCanting Mas dan Siwer Mas dikenal sebagai istilah ilmu kediyatmikaan dari Bhatari Durga sebagai Dewa penguasakesidhian (sakti).

Kediyatmikaan ini didapat dari konstemplasi dan konsentrasi penuh dalam mempelajarinya. Tidak sembarangan orang bisa mendapatkan kediatmikaan ini mengingat mebutuhkan proses dan kemurnian dan ketekunan.

Dalam Lontar Tattwa Kala proses anugrah Canting Mas dan Siwer Mas didapatkan melalui proses penyatuan aksara dan dengan proses yang cukup lama sesuai dengan tingkat ketekunan dalam melakukannya.

Dimulai dengan mempertemukan 20 aksara wreasta, aksara modre dan aksra swalalita. Kemudian modre bertemu dengan swalalitayang disebutsaramoksa kamoksan.

Dari pengabungan ini timbul kemudian aksara dasa bayu, dasa aksara dan menjadi panca aksara, kemudian menjadi tri aksara AUM. Dari tri aksara menjadi dwi aksara dan kemudian menunggal menjadi OM.

Inilah yang disebut dengan kekuatan canting Mas dan Siwer Mas yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia jika digunakan dengan baik. Akan tetapi jika digunakan untuk ketidakbaikan maka akan berakibat buruk bagi diri maupun orang lain.

Kutipan Lontar Tattwa Kala menyebutkan “Yan sàmpun langgêng mangkana siddhi juga ya. Yan tan mangkana arang kasiddhyan tinêmun ta, tan pendah taru tan pawit juga” yang terjemahannya Apabila (hal itu) telah dapat dilakukan dengan baik maka akan manjur jadinya. Apabila tidak demikian maka kamu akan jarang menemukan kemanjurannya. Tak ubahnya pohon yang tanpa akar.

Demikian sabda Bhatari Durga kepada Bhatara Kalla sebagai ajaran tattwa, ketika kediyatmikaan ini dikuasi disebutkan juga dalam lontar ini seseorang akan dapat mememilki kekuatan sakti.

Selain itu, seseorang juga akan dapat mengobati segala macam penyakit yang diderita orang lain ataupun dirinya sendiri. Semua itu tergantung keteguhan dan ketulusan setiap orang yang mempelajarinya. (SB-Skb)

Comments

comments