Kecewa Pada SBY | Datang Demokrat, Pulang Pakai Jas Hanura

5344
GPS bersama kader partai Demokrat yang akhirnya memilih jadi Hanura (foto Dims)

SULUH BALI, DENPASAR – Kecewa terhadap kinerja kerja Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY yang juga adalah Presiden ke-6 RI), puluhan pengurus dan kader Partai Demokrat Bali memilih untuk mengundurkan diri dari Partainya. Bukan hanya mengundurkan diri dari Partai Demokrat, para kader itu memilih hijrah ke Partai Hanura Bali.

Ekspresi kekecewaan ini ditunjukan di sebuah tempat di Denpasar, dengan datang menggunakan baju partai Demokrat tempat mereka selama ini bernaung dan pulangnya mereka sudah mengenakan jas partai Hanura, partai baru yang mereka pilih, mengikuti jejak pentolan partai Demokrat Bali Gede Pasek Suardika (GPS), yang telah mendapat kursi sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat Partai Hanura yang kini dipimpin Oesman Sapta Odang.

Aksi ini disaksikan puluhan awak media di Bali dan Ketua DPD Partai Hanura Made Sudarta. Diterangkan disini, pentolan Demokrat Bali yang mengundurkan diri itu adalah mereka yang masih aktif dalam kepengurusan baik yang sebagai ketua dan pengurus DPC Partai Demokrat maupun beberapa ketua dan pengurus PAC di beberapa kecamatan di Bali seperti dari Karangasem dan Buleleng.

Mantan Ketua DPD HANURA Bali yang kini sudah memakai jas Demokrat (foto wan)
Mantan Ketua DPD HANURA Bali yang kini sudah memakai jas Demokrat (foto wan)

Dalam keterangannya GPS menjelaskan jika dirinya menerima banyak aspirasi dari kader Partai Demokrat yang menyatakan kekecewaannya terhadap SBY dan pengurusan Partai Demokrat di Bali. “Umumnya mereka kecewa terutama dengan Ketum SBY dan Ketua DPD Partai Demokrat Bali Made Mudarta.”

GPS yang kini adalah anggota DPD-RI mengatakan secara kinerja dan aspirasi tidak tersalurkan. Sehingga kebanyakan kader yang pindah karena kekecewaan terhadap kinerja Partai Demokrat mulai dari SBY sampai ke pengurus tingkat bawah. Kekecewaan itu bertambah karena sampai saat ini tidak pernah melantik PAW yakni pengganti Jero Wacik yang sudah terlibat korupsi sejak dua tahun lalu, dan melantik PAW pengganti Putu Sudiartana yang juga sudah terlibat kasus korupsi.

“Kita sangat kecewa dengan kinerja SBY. Kenapa tidak pernah melantik kader pengganti dari Bali. Dua kader itu mewakili ratusan pemilih asal Bali sehingga saat ini terjadi kekosongan kursi asal Bali. Ini partai apa ini. Sudah terlibat korupsi kok masih dipertahankan,” ujar Pasek lagi di Denpasar, Jumat (27/1).

Menurutnya, pertanyaan para kader itu tidak bisa dijelaskan, kenapa SBY tidak segera melantik dua kursi asal Partai Demokrat yang kadernya tersandung kasus koruspsi. Para kader mengatakan tidak masuk akal ketika seorang kader Partai Demokrat yang sudah jadi terdakwa tetapi tidak segera di-PAW oleh Partai Demokrat.

“Dua kursi di Senayan dari Bali itu sangat berpengaruh terhadap ratusan ribu rakyat Bali yang memilih dua kader itu, dan kader yang di-PAW. Tidak ada alasan bagi SBY untuk tidak segera melantik kadernya. Ini benar-benar tidak masuk logika. Itulah sebabnya banyak kader kecewa dan mundur. Ia meyakinkan Partai Hanura Bali siap menampung aspirasi dari rakyat yang memilih menyalurkan aspirasinya melalui dua kursi tersebut.

Selain kecewa terhadap SBY, puluhan kader potensial tersebut kecewa terhadap Made Mudarta. Sejumlah pengurus DPC, pengurus anak cabang (PAC) Partai Demokrat Karangasem yaitu Kecamatan Rendang, Sidemen dan Manggis juga rame-rame pindah ke Hanura. “Kami kecewa juga terhadap Made Mudarta. Dalam Musda Partai Demokrat di Kabupaten Karangasem tidak ada kesepakatan tetapi malah dibiarkan,” ujarnya.

Mereka mengaku hijrah ke Partai Hanura karena sangat kecewa dengan kepemimpinan Mudarta Ketua DPD Partai Demokrat Bali. “Aspirasi kita tidak bisa diterima. Dalam Musda juga tidak mencapai kesepakan,” ujar I Ketut Pasek, Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Karangasem.

Ia mengatakan, sangat tidak layak sebagai partai yang demokratis karena terjadi pemberlakuan sistem yang tidak lazim. Sementara Wayan Ratna,  Ketua PAC Kecamatan Rendang mengatakan, dirinya memilih mundur dan pindah partai karena merasa tidak adil dengan kebijakan partai.

Hal yang sama juga dialami Dek Ulik, I Nengah Sudiarta, Ketua PAC aktif Kecamatan Sidemen.  “Mungkin alasan kami hadir kesini bersama teman-teman sangat kecewa karena mestinya dari dulu protes semenjak kasus pejabat yang ada di Jakarta dari Bali, kasus korupsi banyak yang protes sama saya. Saya katakan bersabar. Namun ketika ada Musda yang baru dan Muscab bulan Desember lalu, di sana saya kecewa karena tidak ada penyelesaian dari DPD Demokrat Bali,” ujarnya.

Pak Oles Ke Demokrat

Uniknya, peristiwa ini seperti berbalas pantun. Karena sebelumnya, Mantan Ketua Partai Hanura Bali Gede Ngurah Wididana sudah pindah ke Partai Demokrat Bali dan kini menduduki posisi strategis sebagai Ketua Komisi Bapilu Partai Demokrat Bali. (SB-rio)

Comments

comments