Keamanan Jelang Nyepi dan Pesta Demokrasi

41

Rapat koordinasi yang dilaksanakan di Kantor Camat Kuta. |foto-ijo|

SULUHBALI.CO Mangupura – Perayaan hari raya Nyepi bersamaan dengan pesta demokrasi sering menjadi sorotan beberapa kalangan. Perayaan hari besar umat Hindu ini malah disisipkan dengan kepentingan politik. Sehingga malah menimbulkan gesekan antar para pendukung, terutama pada satu hari jelang Nyepi yang dikenal dengan istilah hari Pangerupukan. Hal ini pun menjadi salah satu bahasan dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan di Kantor Camat Kuta, Rabu (05/03/2014).

Camat Kuta, I Gede Rai Wijaya menegaskan, muncul suatu kesepakatan bersama untuk menjaga kondusifitas kawasan, baik pada saat perayaan Nyepi maupun pelaksanaan pemilu. “Ada dua wilayah di Kecamatan Kuta yang mengadakan kegiatan ogoh-ogoh, yakni Kelurahan Kedonganan dan Kelurahan Kuta. Jadi kedua wilayah tersebut, perlu mendapat pengamanan ekstra saat pawai ogoh-ogoh berlangsung. Tapi bukan berarti hanya untuk kedua wilayah ini saja, semua wilayah di Kecamatan Kuta keamanannya harus tetap terjaga,” ucapnya.

Pelaksanaan upacara melasti sebelum perayaan Nyepi juga mendapat perhatian khusus terkait dengan dilaksanakan pesta demokrasi ini. Atribut partai yang digunakan dalam hal kampanye, sudah diturunkan sebelum upacara melasti yang dilaksanakan pada 28 Maret ini.

“Disepakati bersama, memang seyogyanya pada saat melasti dan rentetan perayaan hari raya Nyepi, sementara tidak ada lagi atribut partai yang terpampang. Utamanya di titik-titik sekitar fasilitas umum, termasuk sekolah dan tempat persembahyangan. Walaupun saat itu masih pada masa kampanye,” jelasnya

Beliau mengatakan setelah perayaan Nyepi atribut ini bisa dipasang kembali. Dengan catatan, memperhatikan batas waktu kampanye yang diketahui berakhir pada tanggal 5 April. Sehubungan dengan hal tersebut, Ketua Panwaslu Kecamatan Kuta, AA Salit Rai Karnata, merasa cukup sulit melakukan penertiban. Meskipun secara ketentuan, pemasangan alat peraga ini sudah ada aturannya.

“Kami sebagai pengawas intinya tidak tebang pilih. Selama ini kami sudah lakukan penertiban, khususnya pada alat peraga yang mengganggu fasilitas umum seperti sekolah, perkantoran dan tempat persembahyangan,” tegasnya.

Bahkan dari pantauan di wilayah Kecamatan Kuta, sudah terpasang hampir 700 alat peraga kampanye. “Sudah tiga kali kami melakukan penertiban dengan dibantu oleh anggota Satpol PP Badung sebagai eksekutor. Ini merupakan salah satu dampak dari tarung bebas. Tentu ini akan menjadi salah satu evaluasi kedepan,” tandasnya. ( SB-IJO )

Comments

comments

Comments are closed.