Kasus Kematian Bocah Karang Asam, Kuasa Hukum Sebut Ada Keganjilan Dalam BAP Saksi sebelumnya.

0
2058
SULUH BALI, Denpasar – Kisah kematian Ni Kadek Candradinata alias Gek Candra, bocah asal Sidemen Karangasem yang dibunuh dengan cara sadis pelan pelan mulai terungkap dan bahkan terindikasi unsur ketidak seriusan dari polisi dalam mengungkap pelaku.
Salah satu kuasa hukum korban, Yulius Benyamin Seran menyebutkan bahwa dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terhadap orang tua korban yang dilakukan pertama kali oleh Penyidik Polsek Sidemen disebutkan bahwa “ia I Wayan Surata Ardiawan (ayah korban) diperiksa dan didengar keterangannya dalam perkara mati sia sia, dengan Laporan Polisi Nomor LP : 02/I/2015/Bali/Res. Kr.asem/Sek Sidemen tanggal 20 Januari 2015.
Yulius Benyamin Seran, usai mendampingi Saksi yakni kedua orang tua korban dalam BAP Tambahan pada, Senin (4/6/2018) di Polres Karangasem menyampaikan bahwa setelah dirinya mempelajari Berita Acara Pemeriksaan terhadap saksi sekaligus orang tua korban, disana sangat jelas bahwa pada awalnya Polsek Sidemen dalam melakukan serangkaian tindakan penyelidikan dan penyidikan tidak diarahkan pada dugaan pembunuhan. Justru diarahkan kepada mati sia sia alias tenggelam. “Anehnya, di dalam BAP tersebut pada jawaban atas pertanyaan nomor 14 terdapat kata “mengambang di air” dalam uraian jawaban saksi berkaitan kondisi korban saat diketemukan padahal saksi sendiri tidak pernah mengeluarkan kalimat tersebut. Sehingga dalam BAP tambahan hari ini, keterangan tersebut dicabut dan diperbaiki karena tidak benar,” ujarnya.
Menurutnya, keterangan tersebut sangat memukul hati kedua orang tua korban, sehingga kuasa hukum dan keluarga korban mencabut dan diganti dengan keterangan yang benar sesuai apa yg diketahui oleh saksi, tegas Benyamin Seran Siti Sapurah alias Ipung menjelaskan bahwa faktanya korban diketemukan di pinggir gorong-gorong kering, bukan di dalam air. Bagaimana mungkin korban bisa mengambang sampai disimpulkan mati tenggelam? Secara logika, anak berusia 1.3 tahun tidak mungkin sanggup berjalan kaki sejauh 1.5 KM dengan menelusuri hutan belantara yang kondisi jalannya sangat terjal dan melewati jurang serta menyebrang jalan besar yang biasanya dilalui oleh truk pengangkut material pasir. Dari petunjuk ini saja sudah bisa dipastikan bahwa ada orang dewasa yang membawa korban dari rumah pamannya hingga ke TKP penemuan jenazah.
Sementara itu, Siti Sapura alias Ipung memaparkan bahwa harusnya Polisi tidak boleh terburu buru menyimpulkan penyebab matinya korban sebelum hasil otopsi dikeluarkan oleh rumah sakit. “Janganlah mengambil peran dokter hanya untuk mengarahkan kasus pidana murni tentang pembunuhan ini menjadi kasus tenggelam. Kami sangat menyayangkan sikap kepolisian Sektor Sidemen. Namun, disisi lain kami sangat mengapresiasi pengembangan yang dilakukan oleh Polres Karangasem dimana telah merubah arah penyidikan kepada dugaan pembunuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 338 KUHP juncto Pasal 351 ayat (3) tentang Penganiayaan mengakibatkan matinya seseorang, juncto Pasal 80 (3) dan 70C UU Perlindungan Anak. Artinya, penyidik Polres Karangasem telah sejalan dengan fakta di lapangan,” ujarnya.
Perlu diketahui bahwa kasus kematian Gek Candra kembali dibuka setelah hampir 4 tahun mengendap. Setelah aksi menarik simpatik masyarakat yang digelar di depan Monumen Bajra Sandi Renon pada Minggu (3/6/2018) pagi bersamaan dengan car free day, perjuangan kedua orang tua Gek Candra dilanjutkan dengan mendatangi Polres Karangasem pada Senin (4/6/2018) guna memberikan keterangan tambahan yang sifatnya sangat penting guna membantu pihak kepolisian mengungkap kasus terbunuhnya  korban. Kedua orang tua korban berharap pelaku dihukum setimpal dengan perbuatannya. (SB-rio)

Comments

comments