Karyawan RSU Manuaba Tolak Direktur Dokter Indrayani

742
Prof. dr. Ida Bagus Gede Manuaba di rumahnya menerima karyawan RSU Manuaba yang datang untuk menyatakan kesetiaan pada pendiri RSU Manuaba (foto ist).

SULUH BALI, Denpasar – Konflik internal pada manajemen Rumah Sakit Umum (RSU) Manuaba, Denpasar semakin menjadi-jadi.

Munculnya formasi kepengurusan baru (AHU-0005024.AH.01.12. tertanggal 3 Maret 2017)  yang dimotori tiga anggota Dewan Pembina Yayasan Keluarga Manuaba  (YKM) yaitu dr. Ida Ayu Chandranita Manuaba, dr. Ida Ayu Ratih Wulansari Manuaba dan dr. Ida Bagus Surya Putra Sp THT-KL Mars, memilih Ida Bagus Udayana, ST sebagai Ketua YKM menggantikan Anak Agung Istri Mas Kencanawati. Ketua YKM yang baru ini kemudian mengangkat dr.Ida Ayu Indrayani, MPH sebagai Direktur RSU Manuaba menggantikan dr. I Made Supartayasa.

Namun hadirnya nahkoda baru ini, tidak lama kemudian mendapat penolakan dari entitas RSU Manuaba, mulai dari pendiri RSU Manuaba sejak tahun 1974 Prof. dr. Ida Bagus Gede Manuaba, Ketua Pembina YKM (Sesuai Akta AHU-0003396.AH.01.04 Tahun 2015)  dr. Ida Bagus Gede Fajar Manuaba, Direksi RSU Manuaba dan para karyawan yang telah menyatakan kesetiannya untuk terus berada di bawah naungan manajemen yang mendapat restu langsung dari Pendiri dan sekaligus owner RSU Manuaba, yaitu Prof. dr. Ida Bagus Gede Manuaba.

Dalam konfrensi pers yang dihadiri pula oleh penasehat RSU Manuaba Prof.Luh.Suryani dan para pengacara I Wayan Mudita, dan I Gusti Ngurah Artana serta karyawan. Prof. dr. Ida Bagus Gede Manuaba menyebut perilaku ketiga anaknya tersebut sebagai sebuah perampokan. Tidak pernah berkomunikasi dengan dirinya atas semua tindakan yang diambil dalam proses perubahan formasi yayasan dan menerbitkan akta perubahan secara ilegal. Kekecewaan tersebut, memaksa dirinya membuat keputusan untuk tidak memberikan saham pada kedua anak perempuannya.

 

Pemalsuan Stempel

Pengacara I Wayan Mudita dan I Gusti Ngurah Artana menyebut penerbitan akta perubahan Yayasan Keluarga Manuaba (YKM) pada Sabtu (8/2/2017) yang ditandatangani notaris Hajjah Sri Subekti diragukan keabsahannya. Pasalnya surat-surat yang dibuat atau ditulis ketiga terlapor sejak 21 September 2016 hingga berujung perubahan dan penetapan susunan badan pembina, pengurus, serta pengawas bernomor AHU-0005024.AH.01.12. tertanggal 3 Maret 2017 menggunakan stempel abal-abal alias palsu.

Karena itu dr. Ida Ayu Chandranita Manuaba, dr. Ida Ayu Ratih Wulansari Manuaba dan dr. Ida Bagus Surya Putra Sp THT-KL Mars dilaporkan karena ke SPKT Polda Bali atas tuduhan penggunaan surat palsu atau keterangan palsu. Bukti pelaporan ketiganya tertuang dalam laporan polisi bernomor LP/181/IV/2017.

I Wayan Mudita dan I Gusti Ngurah Artana menilai Akta Yayasan Keluarga Manuaba nomor AHU-0003396.AH.01.04 Tahun 2015 merupakan yang sah. “Mereka (terlapor) mengubah susunan organ yayasan yang ada di tahun 2015. Secara formal kelihatan mereka benar, tetapi mereka lupa ada kecacatan di sana secara formil,” ujar Mudita.

Ditambahkannya, cacat formil dimaksud berupa pergantian organ yayasan tanpa kehadiran pihak pengawas, pengurus, dan ketua pembina yayasan. “Kami telah bersurat kepada Dirjen AHU (Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kementerian Hukum dan HAM) tentang kecacatan ini. Kami juga melaporkan notaris Hajjah Sri Subekti red kepada instansi yang berwenang untuk itu, yakni Majelis Pengawas Daerah. Kami telah pernah dipanggil untuk bersidang terkait kode etik notaris,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Mudita menyebut sebelum yayasan baru terbentuk, Prof. Manuaba sempat bersurat kepada notaris Hajjah Sri Subekti agar tak dilakukan perubahan organ yayasan RS Manuaba.

Menariknya, Mudita menyebut ada stempel palsu yang digunakan terlapor dalam surat-surat yang disebarkan. Salah satunya undangan rapat terhadap kliennya dr. Ida Bagus Gede Fajar Manuaba. “Sudah ada berita acara penggunaan stempel dan diketahui oleh seluruh organ yayasan, termasuk mereka yang mengaku dirinya sah. Jadi, tidak boleh menggunakan stempel lain. Ini yang kami laporkan di Polda Bali,” ungkapnya.

Di sisi lain, I Gusti Ngurah Artana berharap Polda Bali segera menaikkan kasus ini ke tahap penyidikan agar dilakukan uji forensik terhadap stempel palsu dimaksud. “Ini dengan sengaja mereka lakukan untuk mengubah susunan organ yayasan. Jelas melanggar anggaran dasar RS Manuaba,” sambungnya.

 

Intervensi Pada Pelayanan

Direktur RS Manuaba dr. I Made Supartayasa menyebut konflik internal sudah mengarah pada intervensi yang dilakukan oleh pengurus yayasan baru. “Kami selaku pengawal rumah sakit untuk pelayanan publik kami merasa sangat terganggu. Staf kami dari depan sampai belakang diintervensi. Dalam hal ini kami sudah serahkan sepenuhnya kepada owner atau pemilik rumah sakit, Prof. Manuaba,” ungkapnya.

Imbuhnya, ada pesan dari Dinas Kesehatan Tingkat II Denpasar, bahwa pelayanan publik tidak boleh terganggu. Oleh sebab itu, Supartayasa berharap permasalahan ini segera bisa diselesaikan.

Dikonfirmasi secara terpisah Kabid Humas Polda Bali AKBP Hengky Wijaya membenarkan adanya pelaporan terhadap tiga orang dokter spesialis atas tuduhan penggunaan surat palsu atau keterangan palsu. “Saya mengetahui laporan itu. Perkembangannya akan dicek terlebih dahulu,” ungkapnya.

Di sisi lain wartawan tidak bisa melakukan konfirmasi dengan Direktur RS Manuaba versi Akta Yayasan Keluarga Manuaba nomor AHU-0005024.AH.01.12, dr. Ida Ayu Dewi Indrayani. Telepon wartawan, Selasa (6/6) pukul 16.59 dan 16.12 keduanya tidak dijawab. (wan)

 

Comments

comments