Karya Masterpiece Tercipta Melalui Proses “Kerauhan” ? (3-habis)

0
184
Seniman Bali Saat Tampil di PKB

SULUH BALI – Seniman yang tampil memukau maupun melahirkan karya-karya
seni yang hebat sering disebutkan karena adanya taksu yang
dimilikinya. Hasil karya yang hebat itu kemudian disebut sebagai karya
masterpiece, adikarya atau mahakarya.

Mahakarya tersebut misalnya bisa di bidang sastra, seni lukis, musik,
seni tari, seni pahat, arsitektur, seni karawitan dan sebagainya. Di
Bali seniman yang seperti itu, saat dia berkarya atau tampil biasanya
disebut “ketakson”. Sedangkan karyanya yang hebat atau mahakarya atau
masterpiece itu dibilang metaksu.

Ternyata proses penciptaan terhadap karya-karya hebat yang dinilai
masterpiece atau mahakarya oleh para seniman tersebut diciptakan
melalui proses “kerauhan”. Namun kerauhan disini bukan kerauhan yang
umum kita kenal.

Hal itu juga disampaikan oleh Dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ,
seorang psikiater, saat seminar “Kerauhan Jaman Now”, Minggu (11/2)
yang lalu. Bahwa seorang seniman mampu menghasilkan karya yang hebat
dalam kondisi “kerauhan” ini.

“Ketika seniman membuat karya masterpiece, sebulan dia mengerjakan itu
tidak selesai. Tetapi ketika dia dalam keadaan trance, dia bisa
melakukan semuanya. Dalam keadaan bawah sadarnya dia merecall semua
pengalaman masa lalu dia,” katanya.

Namun secara keilmuan, menurut dia kondisi “kerauhan” itu disebut
dengan trance. Bahkan dia sampaikan pula, sekitar tahun 1972 hal ini
pernah diteliti oleh The American Journal of Psychiatry.

Hal itu mungkin terjadi, karena menurut dokter spesialis kejiwaan ini,
bahwa saat seseorang sedang dalam kondisi “kerauhan”, trance itu, otak
bekerja lebih dari biasanya. “Kemampuan instingtual meningkat disertai
kekuatan fisik luar biasa,” jelasnya.

Hampir sama juga dengan apa yang disampaikan oleh Dr. Komang Indrawan
(Mang Gases), yang pada saat seminar itu juga sebagai narasumber.
Menurut praktisi, akademisi, sekaligus seniman yang sering membawakan
pentas Calonarang ini, jaman dulu para Maha Rsi, orang suci
mendapatkan wahyu atau Sruti, juga melalui proses “kerauhan” ini.

Tetapi, sekali dia menggarisbawahi, bukan kerauhan seperti pada
umumnya kita ketahui sekarang ini. Melainkan kondisi “kerauhan” yang
benar-benar sakral. Prosesnya juga sakral, yang secara sadar dlakukan,
dipersiapkan sesuai tatanan, etika dan kesucian bhatin untuk memohon
kehadapan Yang Maha Kuasa.

Sehingga menurutnya, apa yang “didapat” dari permohonan itu, juga hal
yang suci.  Maka kemudian darinya kita kenal kemudian sebagai Wahyu,
Sruti, menjadi Smerti dan seterusnya yang memang berasal dari Yang
Maha Kuasa. Dan memang kenyataannya kemudian “masterpiece” dari wahyu
tersebut akhirnya menjadi Mahakarya yang abadi bahkan menjadi dasar
keyakinan. (SB-Rk)

Comments

comments