SULUH BALI, Denpasar – Kali pertama Naedrum tampil di Bali menyambut penonton di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Center dengan tabuhan genderang drum yang bergemuruh, Sabtu (07/07). Kesenian tradisional ini mampu menyihir publik yang didominasi oleh para remaja yang sengaja datang untuk menyaksikan pertunjukan asal Korea Selatan ini. Naedrum menampilkan pertunjukan dengan tiga sekuen, di mana mereka mengangkat folklore dari negaranya. Tarian demi tarian dipentaskan apik oleh mereka, dan tiga sekuen pementasan ini berhasil menyentuh hati penonton. Penonton bertepuk tangan, riang, dan senang, dan gempita oleh semua yang ditampilkan Naedrum.

“Antida Music Productions menjalin hubungan yang baik dengan Korea Selatan. Setiap tahunnya, kami selalu diundang sebagai delegasi Indonesia untuk datang ke acara APaMM (Asia Pasific Music Meeting). Di dalam acara ini, yang dihadiri oleh founder-founder festival di berbagai belahan dunia, kami seringkali berbagi pemikiran untuk melakukan semacam ‘cross-culture’. Sebelum Naderum, kami pun mendatangkan Kim So Ra, musisi asal Korea ke Bali pada bulan Mei lalu. Bukan hanya mendatangkan musisi-musisi luar ke Bali, Antida Music Productions juga kerap kali mengajak musisi-musisi bali maupun kesenian lainnya ke luar negeri. Dua tahun lalu, dalam rangkaian ini, kami mengajak Gustu Brahmantya, untuk tampil di Korea. Pada bulan Juli ini, kami mengajak group Tari Saman yang bernama Gaya Gayo ke Rain Forest Festival. Dan pada bulan Agustus ini, kami mengajak Rhythm Rebel dari Bali ke Korea. Semua ini kami tujukan untuk hal yang positif, yang dapat membangun kualitas seni di tanah air ini.” Ujar Anom Darsana, Pemilik Antida Music Productions.

Tiiga sekuen pertunjukan yang ditampilkan memiliki arti dan makna, seperti Chookwon (berkat) adalah upacara tradisional yang berasal dari provinsi Gyeongsang, Korea. Upacara ini merefleksikan perayaan tahun baru. Secara tradisi, biasanya, perayaan ini ditampilkan dengan mengelilingi desa untuk mengusir roh jahat dan sebagai doa mereka agar rumah dan desa dilingkupi oleh kedamaian. Selanjutnya, Cheongsin (Permohonan kepada Dewa Pencipta) adalah ritual meminta hidup panjang dan mempunyai banyak keturunan dari ritus kelahiran kepada Sejon, Dewa pemberi berkat. Pada sekuen ini, menampilkan suara unik (semacam kidung) yang berasal dari dukun pantai timur. Dan yang terakhir Naori & Sinmyung, merupakan ritual yang menarik. Pada sekuen ini, Naedrum tampil dengan dinamis, yang melibatkan penonton untuk dapat merespon pertunjukan mereka. Naedrum dan penonton tidak ada batas, pertunjukan ini ditutup dengan menari bersama-sama antara Naedrum dan penonton yang hadir.

“Kami ingin membagi kebahagiaan dan pementasan ini kami lakukan untuk memohon kepada dewa agar kita semua dilimpahi kebahagiaan” Ucap Hyo Jin Hong, salah satu pesonil Naedrum.

Dalam wawancara seusai acara, Anom Darsana, menambahkan: “Antida Music Productions memilih Naderum untuk ditampilkan di sini adalah karena pementasan ini sangat unik dan belum pernah ada. Melihat begitu banyak antusias dan respons publik yang turut serta merespon acara ini, kami merasa kerja keras kami untuk menampilkan Naedrum ini terbayar sudah. Sebagai promoter, memang tugas Antida Music Productions terbilang tidak mudah, dalam artian, Antida Music Productions harus memfasilitasi para personil Naedrum ini dari mulai akomodasi, makan, dan transporatasi. Tetapi untuk pesawat, pemerintah Korea, Naedrum didukung langsung oleh pemerintah Korea.” (SB-cas)

Comments

comments