Jelang Galungan, Lawar Selalu Hadir

156

Membuat lawar pada hari penampahan. (foto raka)

SULUHBALI.CO, Denpasar — Masyarakat Bali menyembelih ribuan ekor babi secara massal pada hari Penampahan Galungan atau sehari menjelang hari raya umat Hindu terbesar di Pulau Dewata, Selasa (20/5).

Ribuan ekor babi yang dipotong dalam waktu bersamaan itu sebelumnya telah disiapkan dengan baik oleh masyarakat di masing-masing banjar (dusun).

Babi yang siap potong dengan berat di atas 100 kg per ekor tersedia hampir secara merata di delapan kabupaten dan satu kota di Bali sehingga menjelang Galungan tidak perlu terjadi perdagangan babi lintas kabupaten walaupun persentasenya relatif sangat kecil.

Pemerintah Kabupaten Tabanan, misalnya, telah menjamin stabilitas harga daging babi seiring dengan meningkatnya kebutuhan umat Hindu menjelang Hari Raya Galungan tidak terjadi lonjakan yang signifikan.

Kepala Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kota Denpasar Anak Agung Gede Bayu Brahmastra mengatakan bahwa harga daging babi, sapi, dan ayam sedikit naik menjelang Hari Raya Galungan seiring tingginya permintaan.

Harga daging babi kualitas satu dari sebelumnya Rp48 ribu menjadi Rp55 ribu per kilogram, harga daging sapi ras dalam dari Rp110 ribu menjadi Rp115 ribu/kg, sedangkan harga daging ayam dari Rp30 ribu menjadi Rp35 ribu/kg.

Sementara itu, daging babi hidup Rp28 ribu/kg meningkat dari sebelumnya sebesar Rp27 ribu/kg. Misalnya, seekor babi dengan berat 100 kg, berarti harganya Rp2,8 juta. Babi tersebut dipotong secara patung menjadi 15–20 bagian.

Pemotongan bersama dengan istilah “mepatung” itu harganya akan jauh lebih murah daripada membeli daging yang sudah bersiap di pasar-pasar tradisional.

Masyarakat Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan sekitar 27 km barat laut Denpasar, misalnya melakukan pemotongan babi itu pada pagi hari sehingga menjelang matahari terbit, pemotongan itu sudah selesai.

Masing-masing KK memperoleh bagian 6-7 kg daging babi itu selanjutnya bersama anggota keluarganya diolah dalam berbagai menu makanan khas Bali.

“Ada yang diolah menjadi lawar dan be balung untuk makan hari ini dan besok maupun olahan urutan yang bisa tahan dalam beberapa hari hingga Hari Raya Kuningan,” tutur Pan Angga (57), warga setempat.

Ia menuturkan bahwa seekor babi dengan berat 100 kg milik salah seorang warga dibeli secara patungan bersama sepuluh orang dengan pembagian sama rata.

Sementara itu, masyarakat perkotaan, khususnya di Kota Denpasar, sebagian kecil yang melakukan pemotongan babi di rumah tangga. Mereka kebanyakan membeli di pasar-pasar tradisional dalam bentuk daging babi yang sudah bersih siap diolah.

Masyarakat Bali, baik di perkotaan maupun perdesaan, pada hari Penampahan Galungan tetap melakukan tradisi “ngelawar” dan membuat aneka jenis masakan khas Bali. (SB-ant)

Comments

comments

Comments are closed.