Jangan Sampai Laksanakan Ritual, lalu Punya Hutang

121
Wagub Sudikerta saat ada di Buleleng (foto humas.Bali)

SULUH BALI, Singaraja — Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta meminta umat Hindu di daerah itu untuk melaksanakan ritual keagamaan sesuai kemampuan dan jangan sampai meninggalkan utang.

“Upacara agama yang dilaksanakan secara massal sangat positif manfaatnya mengingat diselenggarakan secara gotong royong oleh warga dan biaya yang dikeluarkan pastinya akan lebih murah. Namun, tidak mengurangi nilai dan maknanya, apalagi jika upacara seperti ini bisa dilakukan secara gratis, tanpa memungut biaya apapun dari masyarakat,” kata Sudikerta di sela-sela menghadiri upacara Ngaben massal di dua desa di Singaraja, Buleleng, Jumat (16/6/2017).

Menurut dia, ngaben yang dilaksanakan secara massal sangat meringankan umat mengingat biaya pengabenan saat ini cukup tinggi. Dia juga sangat kagum akan usaha dari masyarakat Desa Kekeran, Buleleng, yang mampu melaksanakan upacara tersebut secara gratis.

Sudikerta berpandangan, dengan menyelenggarakan ritual secara bersama-sama maka hal itu jauh lebih baik daripada satu upacara dilaksanakan sendiri dan secara besar-besaran, namun diakhir upacara meninggalkan utang.

“Yadnya (persembahan) yang dilakukan untuk mengupacarai leluhur, mengantarkan para leluhur menuju sorga jangan sampai meninggalkan utang dan gadai harta benda. Kalau upacara yang meninggalkan utang itu merupakan upacara yang nista karena tidak membuat bahagia yang melaksanakan upacara tersebut karena sesungguhnya Ida Bhatara (Tuhan-red) tidak pernah menuntut umatnya untuk melaksanakan yadnya secara mewah,” ujanya.

Sudikerta menambahkan, pelaksanaan upacara Pitra Yadnya dan rangkaiannya bagi arwah leluhur merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali sebagai bentuk bhakti, penghormatan dan membayar utang sebagai anak yang telah dibesarkan oleh para leluhur sesuai ajaran Tri Rna.

Di sisi lain, dia mengingatkan agar masyarakat Bali secara luas untuk terus beryadnya secara tulus iklas, tanpa harus mengutamakan gengsi yang berlebihan, sehingga tidak akan memunculkan persaingan individual dalam tingkat bebantenan (sesajen), termasuk dalam melaksanakan upacara pengabenan.

Ke depannya, dia berencana menjalankan program Ngaben dan Nyekah gratis bagi masyarakat Bali, sehingga masyarakat akan semakin rekat bersaudara, bergotong-royong sekaligus memperkecil biaya yang dikeluarkan secara pribadi. (SB-humas.bali)

Comments

comments