Jakarta dan Bali Penuhi Kriteria Destinasi Mice

577

Situasi rapat kerja penyusunan strategi pengembangan destinasi Mice. |foto-ijo|

 

SULUHBALI.CO  Mangupura – Direktorat Jendral Pengembangan destinasi Pariwisata telah melakukan pemetaan serta klasifikasi untuk terhadap wilayah yang berpotensi terhadap destinasi MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) yang dilaksanakan sejak tahun 2012 hingga tahun 2013.

Dari hasil pemetaan tersebut, dari 16 daerah destinasi MICE yaitu Bandung, Bali, Balikpapan, Batam, Bintan, Jakarta, Lombok, Makassar, Manado, Medan, Padang, Palembang, Semarang, Solo, Surabaya dan Yogyakarta. Namun baru 2 Provinsi yang dapat memenuhi kreteria tersebut kreteria yaitu Bali dan Jakarta.

MICE sendiri merupakan suatu jenis kegiatan pariwisata yang melibatkan suatu kelompok besar, biasanya direncanakan dengan matang, berangkat bersama untuk satu tujuan tertentu. Akhir-akhir ini pelaku pasar pariwisata cenderung mengganti istilahnya menjadi “The Meetings Industry”.

Kegiatan wisata MICE melibatkan berbagai sektor seperti sektor transportasi, perjalanan, rekreasi, akomodasi, makanan dan minuman, tempat penyelenggaraan acara, teknologi informasi, perdagangan serta keuangan. Sehingga wisata MICE dapat digambarkan sebagai industri multifaset.

Direktur pengembangan minat khusus, konvensi, insentif dan Event, Akhyaruddin mengatakan. “Permasalahan utama dari 14 destinasi  lainnya ada pada infrastruktur dan sumber daya manusianya. Begitu beratnya dan banyak kekurangan dalam bidang ini. Kecuali Jakarta dan Bali,” Jelasnya saat di temui di Central Park Kuta Hotel, Kuta, Kamis kemarin (12/6/2014).

Maka program Menparekraf ke depannya adalah memberikan pemahaman dan sosialisasi khususnya pada 14 kota yang belum memenuhi syarat MICE. Destinasi MICE, mempunyai lebih banyak keuntungan dan kontribusi terhadap pemasukan dari sektor pariwisata daripada hanya kunjungan wisatawan biasa.

“Kalau wisatawan yang datang untuk MICE sekali itu biasanya melibatkan banyak orang sampai ratusan sekali datang. Lama tinggalnya pun tidak seperti wisatawan biasa yang paling lama 9 hari. Kalau MICE bisa sampai 12 hari lebih. Untuk mempersiapkan acara dan lain sebagainya apalagi event skala internasional kan perlu persiapan yang matang,” ujar Akhyaruddin.

Akhyaruddin menambahkan kontribusi dari MICE jauh lebih tinggi 40 persen dibandingkan dengan perolehan yang didapat dari wisatawan biasa. “Trend MICE ini juga terus mencatat pertumbuhan hingga 20 persen per tahun. Sayangnya ini masih jomplang. Hanya dikuasai Jakarta dan Bali saja. Maka kami mendorong 14 destinasi yang lain agar bisa menjadi destinasi MICE juga,” harapnya. Akhyaruddin membantah jika dikatakan, pasar MICE untuk di Bali cenderung lebih lesu setelah perhelatan APEC tahun 2013 yang lalu.

Negara-negara industri merupakan target dari destinasi MICE ini. “Apalagi dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, SDM harus benar-benar kita tingkatkan kapasitasnya. Agar dapat bersaing dari kompetitor kita seperti Singapura,” imbuhnya. (SB-IJO)

Comments

comments