Ini Yang Perlu Diketahui Bila Memotret Ritual Budaya Bali

469
Fotografer Widnyana Sudibya dan Andi Sucirta dalam diskusi di Penggak Men Mersi (foto ist).

SULUHBALI, Denpasar – Sudak sejak lama kegiatan budaya dan ritual di Bali menjadi daya tarik wisatawan maupun para fotografer. Hanya saja tak jarang terjadi “kesalahpahaman” saat proses pemotretan maupun sesudahnya. Bahkan tak jarang timbul kesan “mengganggu” dan ketidaknyamanan oleh warga yang sedang melaksanakan kegiatan ritual maupun budaya itu. Kesalahan informasi dan kesalahpahaman itu bisa karena ketiadaanaturan yang jelas maupun fotogrefernya yang tidak mau tahu rambu-rambu serta etika yang mesti ditaati.

Hal tersebut mengemuka saat diadakan diskusi dengan tema : “Merumuskan Etika Fotografer dalam Mendokumentasikan dan Mempublikasikan Budaya Ritual Bali” di Penggak Men Mersi, Kesiman, Kamis (25/2/2016). Dengan pembicara Ir.Widnyana Sudibya dan dr.Ida Bagus Andi Sucirta. Berbagai saran, keluhan, pengalaman dan solusi dipaparkan oleh pembicara maupun beberapa fotografer yang hadir pada diskusi tersebut.

Diskusi sebagai bagian dari Hari Ulang Tahun kota Denpasar ke-228. Merupakan hasil kerjasama Denpasar Photographer Community (DPC) dan Penggak Men Mersi. Acara ini dibuka oleh Kabag Humas Pemkot Denpasar, Ida Bagus Rahula.

“Sebaiknya para fotografer atau yang merasa dirinya sebagai fotografer, sebelum memotret kegiatan budaya dan ritual, sudah mempersiapkan diri dengan 5 W + 1 H semacam panduan layaknya wartawan terhadap apa yang akan jadi subyek foto itu. Jangan ujug-ujug datang tanpa mengenal terlebih dahulu suatu kegiatan yang akan difoto. Ada baiknya mengenalkan diri, sampaikan tujuan, gunakan busana adat. Sebisanya ikuti dan berbaurlah disana,” ungkap Widnyana Sudibya sambil memaparkan pengalamannya puluhan tahun memotret kegiatan budaya dan ritual di berbagai tempat di Bali.

Sedangkan Ida Bagus Andi Sucirta memberikan tips bagi para fotografer bila memotret kegiatan budaya dan ritual. Menurutnya sebaiknya tiap fotografer sudah punya rencana sebelum, saat memotret dan sesudah memotret. Terkait mempublikasikan hasil foto dari kegiatan budaya dan ritual tersebut, mesti memikirkan dan menimbang dengan matang untuk keperluan apa dan apakah foto tersebut memang perlu untuk dipublikasikan. “Bila tidak ada keperluan mendesak untuk dipublikasikan, bisa saja foto itu disimpan dulu untuk keperluan kajian atau penelitian nanti misalnya,” sarannya.

Sedangkan Agung Sudiana dari Majelis Madya Desa Pekraman Denpasar berharap para fotografer bisa berperan terhadap berbagai kegiatan budaya maupun ritual di Denpasar. Menurutnya, foto-foto hasil jepretan para fotografer akan menjadi media dokumentasi sekaligus sebagai bahan pendidikan bagi generasi penerus.

“Asal kita sama-sama tetap menjaga etika maupun nilai-nilai kebenaran, kesucian dan keindahannya. Nanti masukan dan saran-saran dari diskusi ini akan saya sampaikan ke desa-desa pekraman. Sebagai pertimbangan dalam membuat etika, aturan terhadap kegiatan budaya, ritual terkait kegiatan dukumentasi dan pengambilan foto oleh para fotografer,” ungkapnya.

Tidak Memotret Pretima
Widnyana Sudibya mengingatkan, agar para fotografer tetap menjaga etika dan profesionalismenya saat berinteraksi dan memotret kegiatan budaya maupun ritual di Bali. “Jangan sampai kehadiran kita sebagai fotografer menimbulkan kesan dan rasa tidak nyaman. Ingat, kita datang untuk memotret penampilan mereka, bukan sebaliknya kita yang tampil dan jadi pusat perhatian.” tambahnya. Menurutnya, para fotografer saat memotret sebuah benda yang dianggap sakral dan memiliki nilai ekonomi, seperti pretima misalnya, perlu berhati-hati. “Bisa saja foto atau dokumen itu dijadikan informasi terhadap sebuah benda yang memiliki nilai ekonomi. Itu rawan menjadi sasaran tindak kriminal,” ia mewanti-wanti. (SB-Rk).

Comments

comments