Ini yang Boleh “Ditadah” Bhatara Kala, dan Cara Menghindarinya

1680
ilustrasi

SULUH BALI, Denpasar – Ketika mendengar kata “Butha Kala” pikiran akan mengarah pada sosok yang sering dihubungkan dengan hal-hal negatif yang ada disekitar lingkungan manusia. Bahkan ada keyakinan bahwa Bhatara Kala memakan manusia meski belum bisa dibuktikan secara nyata.

Dalam Lontar Tattwa Kala, sosok Kala sesungguhnya adalah “Bhatara” dimana merupakan putra dari Bhatara Guru (Siwa) dan Bahatari Uma. Bhatara Kala sendiri lahir berwujud raksasa karena hasil hasrat kama yang tidak tertahan dari Bhatari Siwa yang jatuh di samudra.

Dalam lontar ini pun jelas disebutkan bahwa ada kewenangan dari Bhatara Kala untuk memakan orang-orang yang melanggar ketentuan ajaran dharma (kebenaran). Hal itu merupakan sabda dari Bhatari Uma sebagai anugerah kepada anak, dimana kutipan sabdaNya sebagai berikut:

“Lah hana maka tadahane kita, yan hana wang turu tùt sore mwang salah masa atangi wus surup ing aditya, mwang rare nagis ring wêngi kapatakut dening bapa babunya hana ujare, nah nah amah ne amah. Dan lagi kalau ada orang membaca kidung, kekawin, tutur yang uttama di tengah di tengah jalan, itu yang menjadi makananmu. Kalau ada orang yang mengadakan pertemuan untuk perkumpulannya di jalan, itu juga boleh kamu memakannya”.

Artinya: Nah ini sebagai makananmu yaitu kalau ada orang yang tidur sampai sore dan tidak pada waktunya yaitu setelah matahari terbenam, dan anak kecil menangis pada waktu malam ditakuti-takuti oleh ayah-ibunya dengan kata-kata, nah nah amah ne amah (Ya makan, ni makan). Dan lagi kalau ada orang membaca kidung, kekawin, tutur yang uttama di tengah di tengah jalan, itu yang menjadi makananmu. Kalau ada orang yang mengadakan pertemuan untuk perkumpulannya di jalan, itu juga boleh kamu memakannya

Kemudian Bhatari Uma bersabda lagi kepada Bhatara Kala yakni dengan memberikan tugas untuk tinggal di desa dan menghukum manusia yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran dharma (kebenaran).

Aum ranak Hyang Kala pasajñana ta mangkana wênang sira sumêndi ring deúa rumakûaka kita ikang deúa pakraman, wênang sira ngutip i jiwan ing mànuûa tuwin pasu janma ngatahun angken úaúih kasangha. Nguniweh amidaóða wang dudu, durúìla, dåti krama tan manùta ri úila krama dharma úàsana mwah agamanya. Samangkana kita wênang angadakakên gring tutumpur sasab mrana mwang grubug tan siddha inuûadan, mwang ring deúa pakraman sakatibanan durmanggala, apan pamidandan ira Sang Hyang Úiwa Raditya, ring bhumi katiban letuh”.

Artinya : putraku Sang Hyang Kala, engkau patut tinggal di desa, engkau menguasai desa adat, engkau boleh mengambil jiwanya manusia maupun binatang setiap tahun pada waktu sasih Kesanga (Maret). Terutama menghukum orang yang berdosa, jahat, bersenggama tidak sesuai dengan sila-krama, dharma sesana, dan agamanya. Demikian pula engkau dapat menyebarkan penyakit kusta, hama dan penyakit binatang yang tidak dapat diobati, dan di desa adat yang tertimpa alamat buruk, sebagai hukuman dari sang Hyang Úiwa Raditya, pada bumi yang telah terkena cemar.

Cara menghindari Pengaruh Buruknya

Tadah yang tidak sepenuhnya berarti memakan itu sesungguhnya adalah menganggu manusia yang bertentangan dengan dharma (kebenaran), sehingga berada di jalan dharma adalah salah satu cara untuk menghindari pengaruh buruk dari Bhatara Kala.

Kemudian ini pesan Bhatari Uma kepada Bhatara Kala agar tidak mengangu orang yang telah memberikan persembahan kepadanya, “Kunang yan hana wang wruha ring pangastutyane kita wênang Úiwa aweha kasidyan ta, sapamintanya yogya tùtên den ta lawan sawadwan ta kabeh, apan ika wang sanak jati,” sabdaNya.

Artinya : lagi kalau ada orang yang mengetahui prihal pemujaan kepadamu, wajarlah bila kamu memberikannya anugerah, segala permintaannya patut engkau berikan bersama rakyatmu semua, sebab itu saudaramu yang sesungguhnya.

Kemudian Bhatari Uma bersabda lagi sebagai berikut “Kunang mon hana sira sang amawa bhumi minta sih ing Hyang, amalaku ta huripan ing bhumin ira têkeng janman ira sapunpunan ira, den age sira anuku jiwa ring kita mwang ring sarwa dewanta, dening pangaci bantên”.

Artinya: Apabila ada raja memohon belas kasihan dewata, memohon keselamatan negara dengan seluruh rakyat yang ada di wilayah kerajaannya, maka agar segeralah ia menebus jiwa padamu dan semua dewata dengan upakara sesajen. (SB*)

Comments

comments