Ini Prinsip Mendalang “Cenk Blonk” Nardayana

1862
Pementasan Wayang Cenk Blonk (foto raka wirawan).

Dalam sebuah kesempatan, di Art Center, Denpasar, sebelum naik ke atas panggung untuk mendalang, www.suluhbali.co berkesempatan menemui dan melakukan obrolan di belakang panggung dengan dalang Cenk Blonk, I Wayan Nardayana. Dalam suasana santai, sesekali diselingi gelak tawa, dalang yang fenomenal ini berbagi dan bercerita seputar proses kreatifnya, pesan-pesannya, dan juga bagaimana ia mendapatkan ide maupun lelucon yang akhirnya melekat dan dikenal luas oleh masyarakat.

Berikut petikannya :

Bagimana resepnya agar Wayang Cenk Blonk tetap eksis dan bertahan hingga sekarang ?
Ditentukan oleh kreativitas dari wayang itu sendiri. Misalnya kalau wayang itu harus blek begitu terus, seniman itu tidak dapat berkreativitas. Disamping itu masyarakat penonton sekarang, apalagi sekarang dengan berbagai macam channel (televisi) pilihannya. Akan kalah saing dia dengan hiburan-hiburan yang lain. Siapa yang bisa dan seniman siapa yang mampu terus membaca jamannya, seniman itulah yang akan bisa bertahan terus. Karena wayang itu bagian dari kebudayaan. Wayang itu bagian dari kesenian, kesenian bagian dari kebudayaan. Kebudayaan itu akan terus berubah seiring dengan pendukung kebudayaan itu sendiri.

Dari mana mendapatkan ide-ide lelucon itu, apakah itu spontan ?
Spontan atau muncul seketika sih tidak. Wayang Cenk Blonk itu sudah diformat, artinya sudah dipikirkan. Jadi biasanya lelucon itu muncul karena, bisa dari baca buku, mendengar, melihat, merasakan. Dan yang paling penting seniman itu adalah peka. Peka dia, kalau ada sesuatu ooh ini milik saya, dia ambil. Kalaupun sesuatu itu bagus karena tidak cocok dengan idenya, dia tidak akan ambil. Jadi memilih materipun harus pintar-pintar yang sesuai dengan dirinya. Sesuatu yang lucu bagi orang lain, belum tentu lucu bagi dirinya sendiri. Makanya dia harus peka, mana yang pas untuk dirinya.

Biasanya dari orang, dari TV atau dari ngobrol misalnya?
Sebenarnya ide itu dari segala penjuru ada. Yang penting kepekaan. Sesuatu yang konyolpun bisa dijadikan sebuah bahan, karena dia peka. Seniman itu harus peka dengan situasi. Melihat sesuatu saja ia harus peka.

Bagaimana ke depannya untuk mempertahankan Wayang Cenk Blong tetap bisa digemari ?
Siapapun seniman itu punya keterbatasan, Dan seiring dengan umurnya, otak akan semakin bubul (tumpul) kepekaan mereka semakin berkurang. Saya pun suatu ketika nanti tidak bisa lagi membaca jaman, pasti akan ditinggalkan. Akan ada generasi baru muncul yang tahu dengan jamannya. Sama dengan wayang Buduk, wayang Bangli, itu wayang luar biasa di jamannya. Tapi seiring dengan perkembangan jaman, karena ini nya sudah mulai bubul, sementara jamannya mengalir terus. Sehingga dia akan merasa ketinggalan. Apalagi biasanya dalang itu terlalu kagum dengan masa lalunya. Terus dia bengong melihat kesuksesan masa lalunya, tapi dia tidak melihat bagaimana perkembangan jaman, apa yang diinginkan jamannya. Sehingga dia menjadi seniman yang bengong. Makanya harus melihat ke depan, apa yang diinginkan oleh jamannya. Biasanya semakin tua, semakin tidak kuat lagi membaca jamannya.

Dari sekian dalang yang dulu itu, dalang mana yang paling dikagumi ?
Saya sebagai seorang seniman, semua dalang itu bagus. Tiap dalang pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Setidaknya penilaian saya sendiri, seni itu kan sifatnya realistis tidak bisa dinilai hitam putih, baik- buruk. Dalang Jagra bagus, Dalang Buduk bagus, Dalang Dewa Rai Mesi bagus. Semua itu juga saya jadikan inspirasi.

I Wayan Nardayana-2
I Wayan Nardayana dalang Cenk Blonk (foto raka wirawan).

Harapannya untuk generasi muda terhadap pemahaman seni wayang ?
Kita tidak bisa membaca audience untuk menonton kita. Kalau terus tuturin pang mebalih wayang, sing nyidang. Yang penting, kita tidak mampu merubah orang lain, kitalah yang merubah diri kita. Kita jangan mengharapkan mereka untuk menonton kita, kalau kita tidak mau merubah diri kita. Kalau kita mau mereka terus menonton kita, kitalah harus merubah diri kita agar mereka mau menonton kita. Artinya seniman-seniman harus terus kreatif, membaca jaman. Tapi jangan terlalu jauh juga dari warisan leluhur kita yang sudah adiluhung. Adiluhung artinya wayang itu jadikan sebuah panutan terus. Adiluhung artinya kesenian itu jadikan panutan, kalau sudah tidak dijadikan panutan, bukan adiluhung lagi.

Untuk menjaga stamina ?
Hahaha…naaaahhhh niki be…tiyang sampun gelem-geleman niki…haha.. terus terang tiyang sudah kecapean juga sebenarnya niki. Biologis manusia, sepinter-pinter atau sekuat-kuatnya dia pasti akan ada sakit dan capek juga. Kan ada itu, menteri kesehatan jatuh sakit dan meninggal juga. Haha…Cuma mangkin tiyang kurangi jadwal, hanya 10 kali dalam 1 bulan haha.

Katanya sekarang lagi kuliah Strata 3 di IHDN. Kenapa mesti ke IHDN ?
Artinya begini. Di ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar tiyang sudah temukan bentuknya, wujudnya dari seni wayang itu. Sekarang isinya dan filsafatnya kita cari di IHDN. (SB-Raka).

Comments

comments