Ini Pengakuan Perekam, Panitia dan Penari Joged Bumbung Heboh Itu

344
Saat acara amal Gunung Agung dipertunjukan joged yang akhirnya bikin heboh (foto fb).

SULUH BALI, Buleleng – Perekam dan pengunggah Joged Bumbung yang dinilai seronok dan mendapat banyak kecaman itu ngaku kalau tindakan yang dilakukannya itu hanya untuk pamer terhadap teman-temannya di facebook biar dirinya diketahui sedang menonton joged bumbung.

“Saya ingin pamer sama teman di facebook kalau saya sedang menonton Joged Bumbung. Saya juga tidak mengetahui bahwa tindakan saya telah melanggar hukum,” ungkap I Wayan Artawan (16 tahun) yang ngaku merekam Joged Bumbung yang akhirnya viral itu dengan kamera handphone .

Sedangkan salah seorang penari Joged Bumbung, Ni Komang Suantari (18 tahun) ngaku saat itu dirinya hanya mengikuti pengibing menari, termasuk pinggangnya yang sempat dipegang. Namun dirinya tidak tahu kalau penampilannya saat itu ada yang merekam dan mengunggahnya di medsos.

“Kami sebagai penari joged mengikuti pengibing dan saat itu pinggang dipegang oleh pengibing. Namun kami tidak kenal dengan pengibing tersebut dan kami tidak mengetahui ada seseorang yang merekam tarian joged hingga viral di medsos,” ungkap penari Joged Bumbung ini. Belakangan diketahui, pihak panitia saat itu memberikan honor per penari sebesar Rp 300 ribu.

Pengakuan dari perekam dan penari Joged Bumbung tersebut terungkap saat Penyidik dan Satuan Reskrim Polres Buleleng melakukan pemeriksaan dan mengintrogasi sejumlah orang yang mengetahui dan terlibat dalam joged tersebut pada hari Jumat (24/11/2017)

Mereka yang sudah diperiksa dan diintrogasi diantaranya, Ketua Panitia Penyelenggara Event Trail Adventure, penari joged, saksi, Perbekel Desa Les, penari laki-laki (pengibing), perekam dan pengunggah video Joged Bumbung yang dipentaskan saat acara amal penggalian dana erupsi Gunung Agung, di lapangan Desa Les, Tejakula, Buleleng, Minggu (19/11/2017).

Gede Adi Wistara (30 tahun) selaku ketua panitia menyatakan, awalnya penari dan pengibing menari biasa saja. Namun pihak penari laki (pengibing) panas dan tarian tersebut beralih ke gerakan lebih gila. Pihak panitia, menurutnya tidak mengetahui bahwa tarian joged tersebut mengandung unsur pornografi.

“Hingga akhirnya viral di media sosial, kami juga tidak tahu dan tidak ahu siapa yang merekam dan mengunggah video tersebut,” ucap ketua Panitia Penyelenggara Event Trail Adventure itu.

Kapolres Buleleng, AKBP I Made Sukawijaya, S.I.K,.M.Si, ketika dikonfirmasi membenarkan pemeriksaan tersebut.

“Ya benar, mereka sudah diperiksa penyidik Satreskrim Polres Buleleng. Kemudian akan dilakukan gelar perkara untuk menentukan langkah selanjutnya,” jelasnya, Sabtu (25/11/2017).

Dia kemudian menambahkan, bahwa sejumlah elemen masyarakat Bali yang mengatasnamakan dari Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, Cakrawayu Bali dan Kawula Nindihin Bali sudah mengadukan kasus ini ke Polda Bali.

“Mereka mengaku keberatan dengan beredarnya video tersebut. Karena terdapat unsur porno aksi di dalamnya. Mereka juga meminta polisi memanggil pihak panitia acara, penari hingga pengibing,” tutup AKBP I Made Sukawijaya, S.I.K.,M.Si. (SB-Rk/Humas Polda Bali).

 

Comments

comments