Ini Pemahaman Lengkap Galungan dan Kuningan

810
Suasana lomba gebogan menjelang Galungan yang diselenggarakan oleh SKBBA di Kuta. (foto Ijo).

SULUH BALI, Denpasar – Galungan adalah hari suci yang diperingati sebagai kemenangan Dharma (kebenaran) atas adharma (ketidak benaran).

Pemaknaan Galungan tidak hanya dimaknai secara simbolik yakni wujud kemenangan, namun harus dilakukan dengan jalan pemuliaan dharma (kebenaran).

“Kemenangan ini tidak hanya diwujudkan dengan persembahyangan namun harus dipahami bahwa kemenangan harus dimaknai bahwa di dalam diri kita mampu menyomia tiga Buta,” jelas Sekretaris LPM Unhi Denpasar, Kadek Satria, S.Ag, M.Pd.H, kepada www.SuluhBali.co, Kamis (4/2/2016).

Ketiga buta yang dimaksud yakni bernama Bhuta Tiga Galungan terdiri atas Bhuta Galungan, Bhuta Dunggulan dan Bhuta Amangkurat. Ketiga BhutaTiga Dunggulan bertugas untuk menganggu keteguhan manusia yang turun kedunia dimulai sejak Redite Pahing Dunggulan.

“Ketika pada saat Galungan mampu tiga Butha disomia maka betul-betul  Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep,” terang Satria.

Pada saat Galungan inilah umat diharapkan mampu untuk menghancurkan godaan-godaan sehingga pemikiran menjadi terang dan mampu melebur segala macam kegelapan pikiran.

Satria menambahkan Galungan seharusnya tidak hanya hanya sebatas ritual yang bersifat hedonis dengan kemeriahaannya, namun harus disertai pula dengan perenungan sehingga dharma (kebenaran) bisa dimuliakan dan disucikan dalam sebuah kemenangan.

Galungan bukan semata-mata untuk menunjukan bagaimana kemeriahan melaksanakan hari suci, namun Galungan adalah upaya kita untuk merenungi apa yang kita lakukan ini menjadi upaya penyucian dan upaya bahwa kita betul-betul menang,” imbuhnya.

Kemenangan yang dimaksud adalah pemuliaan dharma (kebenaran) yang dimulai dari diri sendiri, sehingga kemudian mampu untuk berpikir, berbuat dan berkata kebenaran di dalam kehidupan.

“Maknai hari suci itu sebagai perenungan pendalaman dan memuliakan  kemenangan di dalam diri,” terang Satria.

Adapun rangkaian hari suci galungan dimulai dari 25 hari sebelumnya yakni Saniscara Kliwon Wariga (Tumpek Wariga), Wheraspati Wage Sungsang disebut Sugihan Jawa, Sukra Kliwon Sungsang disebut Sugihan Bali, Redite Pahing Dunggulan disebut hari Penyekeban, Soma Pon Dunggulan disebut  hari Penyajaan, Anggara Wage Dunggulan disebut Penampahan, Buda Kliwon Dunggulan hari puncak Galungan.

Kemudian dilanjutkan pada besok harinya yakni pada Wheraspati Umanis Dunggulan disebut Umanis Galungan. Saniscara Pon Dunggulan disebut dengan Pemaridan Guru. Soma Kliwon Kuningan disebut dengan Pemacekan Agung, serta sepuluh hari berikutnya adalah hari suci Kuningan yakni jatuh pada Saniscara Kliwon Kuningan. (SB-Skb)


 

Comments

comments