Ini Hal Yang Harus Dilakukan, Bila Mau Bali Tetap Terbaik di Dunia

Ketua PHRI Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati (foto Ijo).
Back

1. Lima Indikator

SULUH BALI, DENPASAR – Meski harus kalah bersaing di dunia, Bali sukses meraih posisi The Best Island di Asia versi Majalah Travel+Leisure (2015) dengan meraih skor 88.98 dan berhasil unggul tipis mengalahkan destinasi pulau lain seperti Maldives, serta Tasmania bahkan unggul jauh dari Hawai.

Jika disusun bedasarkan skor penilaian Galapagos Islands di urutan pertama dengan skor 90.82 disusul oleh Bali pada peringkat kedua yang berhasil meraih peringkat dua dengan perolehan skor sebesar 88.98 yang berhasil mengungguli Maldives dengan skor sebesar 88.53.

Sementara itu, di kawasan Asia, Bali menduduki peringkat pertama dengan skor yang sama, mengalahkan Phuket Thailand dengan skor 79.22. Beberapa indikator yang membuat Bali unggul versi majalah ini adalah keindahan alam, keunikan budaya dan keramah-tamahan orang-orang dari pulau yang kerap disebut pulau dewata dan seribu pura ini.

Tentu saja hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pelaku pariwisata, seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia-Bali (PHRI Bali), Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) dan stakeholder terkait seperti Dinas Pariwisata Provinsi Bali.

Ketua PHRI Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati, atau yang kerap disapa Cok Ace, melihat 5 indikator dominan yang kerap menjadi penilian terhadap Bali.

Diantaranya adalah keunikan adat dan budaya, keramahan manusianya, keindahan alamnya, kuliner dan terakhir adalah ekspektasi terhadap destinasi di Bali.

Disisi lain, Cok Ace mengakui bahwa memang cukup sulit mengalahkan Galapagos karena memang pulau tersebut memiliki potensi alam yang luar biasa ditambah dengan penataan yang sangat bagus tidak heran kalau pulau tersebut ada di peringkat satu.

“Saya akui memang masih cukup sulit mengalahkan Galapagos itu, karena dia juga memiliki potensi alam yang luar biasa, ya seperti pulau Komodo itu modelnya, belum lagi penataannya juga bagus. Tetapi destinasi kita juga tidak bisa diremehkan begitu saja,” ujarnya, Senin (04/01/2015).

Dengan menempati posisi peringkat kedua di dunia sebagi pulau terbaik tentunya harus menjadi cambuk untuk mengkoreksi diri agar kedepannya agar bisa menduduki peringkat teratas diantara negara dan pulau lainnya yang kian menonjolkan potensinya.

Cok Ace mengatakan budaya dan adat istiadat Bali yang begitu kuat masih menjadi daya tarik bagi wisatawan tentu hal ini harus tetap dijaga, jangan sampai nantinya bertabrakan dengan pariwisata apalagi dengan kebijakan regulasi pemerintah setempat.

“Jadi jangan sampai ada kebijakan pengkerdilan budaya, misalkan saja pembangunan tiang listrik, yang bisa saja menyusahkan kegiatan ngaben dengan bade besar agak susah. Tentu ini menjadi perhatian kita semua, termasuk dengan konsep Tri Hita Karana di bangunan hotel haruslah tetap dijaga dan diimplementasikan oleh pengusaha,” tegasnya.

Kebudayaan dan alam Bali harus terus dijaga dengan menekan alih fungsi lahan, menambah kawasan hijau dan menghentikan pembangunan akomodasi pariwisata di daerah yang sudah padat seperti Badung selatan.

“Jika tidak demikian, konsep bahwa pariwisata adalah predator budaya dan alam akan semakin parah, padahal dua hal ini tidak bisa dipisahkan dan kerap menjadi simbiosis mutualisme,” katanya.

Untuk itu, hubungan dengan semua stakeholder baik insan pariwisata, pemegang kekuasaan, investor, masyarakat dan sebagainya harus segera dirajut, guna mencari solusi bagi keadaan Bali sebagai destinasi pariwisata yang tetap unggul dan diminati ke depannya.

Back