IKIP PGRI Cetak Guru Berjiwa Seni

132

Para Wisudawan/i IKIP PGRI Bali

SULUHBALI.CO, Denpasar – Drs I Made Suarta SH MHum selaku Rektor IKIP PGRI Bali mengatakan, pihaknya tampil beda dengan perguruan tinggi lainnya dalam mencetak tenaga guru yang berjiwa seni atau seniman yang berjiwa pendidik.

“Hal itu bisa dilakukan dengan mengangkat lebih banyak muatan lokal dalam kurikulum yang diterapkan pada perguruan tinggi swasta,” kata Rektor Made Suarta ketika ditanya kesiapannya tampil beda dari perguruan tinggi sejenis di Denpasar, Senin (7/10).

Asesor senior dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) Pusat Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi ketika meninjau IKIP PGRI Bali menyarankan agar lebih banyak mengangkat muatan lokal dalam kurikulum yang diterapkan.

Untuk bisa mencetak tenaga guru berjiwa seni atau sebaliknya seniman berjiwa pendidik, dalam penerapan kurikulum tidak perlu sama dengan perguruan tinggi serupa di daerah lain agar dapat tampil beda da tersendiri terlebih lagi Bali memiliki potensi besar untuk maju dengan mengangkat budaya Bali.

“Kalau semuanya sama untuk apa,” kata Dr Drs Djuli Djatiprambudi ketika meninjau dan mengakreditasi program pendidikan seni rupa IKIP PGRI Bali.

Ia mengatakan, IKIP PGRI Bali yang mengasuh sembilan program pendidikan termasuk Seni Rupa akan memiliki masa depan yang cerah, jika mau mengangkat sumber-sumber yang dekat dengan lingkungan yang berkembang termasuk seni dan budaya.

Bali sendiri memiliki literatur hidup dibidang seni rupa bertaraf mendunia, seperti halnya sejarah seni rupa dan budaya Bali yang dinilai sangat spesifik dan mampu bersaing didunia.

Budaya Bali harus banyak diangkat ke permukaan, karena selain mengagumkan hasil karya seniman Bali juga banyak disimpan di Museum ternama dunia. “Kalau tidak kita yang memelopori siapa lagi,” kata beliau yang sangat mengagumi seni budaya dan seni rupa Pulau Dewata.

Djatiprambudi juga mengatakan, dalam mentransfer ilmu kepada mahasiswa hendaknya tidak terlalu mengagung-agungkan metoda barat, namun sebisa mungkin pembahasan ditujukan terhadap kesenian Bali dimana perkembangannya telah memberikan hasil yang mengagumkan.

Bali memiliki puluhan bahkan ratusan pelukis maupun pematung ternama, walau pun tidak pernah mengecap pendidikan formal di perguruan tinggi, namun goresan kanvasnya memiliki ciri khas yang sangat dikagumi dunia seperti misalnya pelukis I Gusti Nyoman Lempad.
Begitu pula pematung I Cokot hasil karyanya tidak ada duanya, kondisi itu perlu ditularkan kepada mahasiswa atau generasi muda yang menuntut ilmu di IKIP PGRI Bali yang nantinya mampu memiliki nama besar seperti para pendulu, tandasnya.

Rektor Made Suarta, mengaku pihaknya sangat siap melaksanakan saran para seniornya itu, dan semua ini adalah masukan yang sangat berharga dan memungkinkan akan dikembangkan di perguruan tinggi yang dibinanya itu.

“Kami siap tampil beda setelah ada masukan dari para asesor dan itu sangat memungkinkan untuk dilaksanakan demi kemajuan bersama,” kata Suarta sambil melirik Ketua Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan IKIP PGRI Bali, Drs IGB Arthanegara, SH, MPd yang ada disampingnya.

Arthanegara mengatakan, pihaknya siap melakukan sesuatu untuk kemajuan pendidikan tinggi di daerah ini dengan menyediakan prasarana dan sarana yang diperlukan seperti laboratorium seni rupa, tempat pameran bagi  para seniman rupa dan pematung secara memadai.

Hasil karya para mahasiswa IKIP PGRI Bali berupa lukisan maupun patung kayu dan keramik tidak kalah dari pada yang ada di perkampungan seniman Ubud, termasuk juga lukisan wayang kamasan. Hasil seni ini selalu ditunjukkan kepada setiap tamu yang berkunjung ke Kampus. (SB-ant/lik)

Comments

comments

Comments are closed.