Ida Pedanda Giri | Filosofi Tumpek Landep

152

Ratu Peranda (Ida Pedanda) Giri bersama Istri.

 

 

SULUHBALI.CO, Singaraja — Tumpek Landep dirayakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep, seperti Sabtu (18/10), dilakukan upacara di setiap Pura Kahyangan Tiga, maupun Pura Dadia.

Ratu Peranda (Ida Pedanda) Giri dari Geriya Jagaraga mengatakan, Tumpek Landep berasal dari kata Tumpek yang berarti Tampek atau dekat dan Landep yang berarti Tajam, sehingga dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran).

”Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai-nilai agama, karena dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk,” ujarnya di Singaraja, Sabtu (18/10).

Ia mengungkapkan, Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu. Jadi setelah mempertingati Hari Raya Saraswati sebagai perayaan turunnya ilmu pengetahuan, umat memohonkan agar ilmu pengetahuan tersebut bertuah atau memberi ketajaman pikiran dan hati.

Menurutnya, pada rerainan tumpek landep juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya, sehingga masyarakat awam sering menyebut Tumpek Landep sebagai otonan besi. Namun seiring perkembangan jaman, makna tumpek landep menjadi bias dan semakin menyimpang dari makna sesungguhnya.

Sekarang ini, kata dia, masyarakat justru memaknai tumpek landep lebih sebagai upacara untuk motor, mobil serta peralatan kerja dari besi. Sesungguhnya ini sangat jauh menyimpang.

Dia tidak menampik, pada rerainan Tumpek Landep melakukan upacara terhadap motor, mobil dan peralatan kerja, namun jangan melupakan inti dari pelaksanaan Tumpek Landep itu sendiri yang lebih menitik beratkan agar umat selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta.

”Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah, sehingga mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri,” imbuhnya.

Ia juga mengatakan, jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasarana,  sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan.

Tumpek landep, menurut dia, adalah tonggak untuk mulat sarira (introspeksi diri) untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Pada rerainan tumpek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.

Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka wisan leluhur. Bagi para seniman, tumpek landep dirayakan sebagai pemujaan untuk memohon taksu agar kesenian menjadi lebih berkembang, memperoleh apresiasi dari masyarakat serta mampu menyampaikan pesan – pesan moral guna mendidik dan mencerdaskan umat.

Ia menegaskan, Tumpek Landep bukan rerainan untuk mengupacarai motor, mobil ataupun perabotan besi, tetapi lebih menekankan kepada kesadaran untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta untuk kesejahteraan umat manusia,” ujarnya.

Momentum Tumpek Landep, menurut Ida Peranda Giri, hendaknya  menjadi titik tolak pembaharuan dan peneguhan komitmen bagi seluruh masyarakat Bali untuk menajamkan pikiran serta menajamkan kualitas spiritual agar benar-benar mampu melaksanakan tugas mengemban swadarma masing-masing. (SB – DN~TiR)

Comments

comments