I Wayan Regeh

SULUH BALI, Nusa Penida – Di Nusa Penida kita bisa temui Gumbleng Di Tanglad dan Dusun Ponjok. Itu adalah peninggalan Belanda sebagai penyimpanan air hujan.

Kita juga bisa temui kapal perang Jepang yang tenggelam diperairan Semaya. Termasuk Goa Jepang di Angkal yang dibuat pasukan Jepang untuk pengintaian peraiaran Bali Lombok.

Selain peninggalan-peninggalan sejarah itu, di Nusa Penida ternyata ada pejuang-pejuang yang ikut andil dalam perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

Yang masih hidup adalah I Wayan Regeh, ia adalah pejuang dan saksi sejarah ketika zaman kemerdekaan di Nusa Penida tahun 1938 sampai 1948.

I Wayan Regeh lahir 31 Desember 1921 di Desa Ped, Nusa Penida Klungkung Bali. Menurutnya, Jumat, 16/2/2018 kemarin, ia bersama 22 orang dari Nusa Penida ikut dalam rangka merebut kemerdekaan dari tangan penjajahan.

“Kami di Nusa Penida ada 22 orang yang ikut pergerakan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Di timur Nusa Penida ada Nyoman Mokoh dan di Toya Pakeh ada We Midra yang merupakan saudara muslim Toya Pakeh”

“Tugas kami adalah untuk penyediaan logistik, penggalangan dana, sebagai mata-mata dan melakukan perlawanan melawan penjajah di Nusa Penida”

“Kalau kita berani, penjajah sebenarnya juga takut. Hanya zaman itu yang berani tidak banyak. Pernah tentara Jepang hendak memperkosa gadis disini dan merampas sapi. Saya usir, ambilkan anyong. Dengan terluka tentara Jepang itu kabur”, cerita I Wayan Regeh.

Atas jasa-jasa sebagai pejuang melawan Penjajah itu I Wayan Regeh diangkat menjadi pejuang veteran berdasarkan Surat keputusan nomer 17/0/KPTS/MUV/1962 Menteri urusan Veteran dan Mobilisasi Brigjend TNI Sambas Atmadinata tertanggal 22/9/1962.

Karena itu pula nama I Wayan Regeh terpahat di Monumen Tanah Ampo Karangasem sebagai pejuang kemerdekaan.

Ternyata I Wayan Regeh tidak hanya seorang pejuang, ia adalah tokoh masyarakat yang disegani. Tercatat lebih dari 10 tahun menjadi Perbekel atau Kepala Desa Ped.

Selain itu, I Wayan Regeh dipercaya oleh masyarakat sekitar memiliki kekuatan gaib, ia dijuluki Papak Badeng Nuse. Misalnya pada suatu ketika ada masyarakat yang hendak menebang pohon, untuk menghindari terjadi kesakitan dan sesuatu lain yang tidak diinginkan, masyarakat biasanya minta ijin ke I Wayan Regeh atau yang sering dipanggil Kak Landung ini.

Ketika ditanya pesan kepada generasi muda, khususnya dari Nusa Penida, I Wayan Regeh walau dengan terbata-bata mengatakan tetap semangat dan pantang menyerah.

“Sekarang anak muda mendapatkan sesuatu semua serba mudah. Itu tidak baik, harus tetap semangat dan berjuang meraih cita-cita, jangan terlena dengan semua serba ada sekarang ini”, Pesannya.

Sementara itu anak I Wayan Regeh yang merupakan dosen di Politeknik Negeri Bali I Nengah Wijaya berharap agar generasi muda tidak begitu saja melupakan sejarah.

“Memang pelajaran sejarah tidak menghasil apa-apa seperti pelajaran Bahasa Inggris yang bisa dipakai mengantar Wisatawan dan dapat uang, tetapi sejarah membuat kita ada seperti sekarang ini.”

“Untuk itu jangan sesekali melupakan sejarah, termasuk sejarah pejuang merebut kemerdekaan yang juga dengan gigih oleh para orang-orang tua kita di Nusa Penida. Kita orang Nusa Penida juga ikut mendirikan Negara ini”, harap I Nengah Wijaya. (SB-skd)

Comments

comments