Hindu Bali Alami Pertarungan Spritualitas Agama dan Uang

2583
Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA

SULUH BALI, Singaraja – Kedepan, orang Hindu Bali menurut Guru Besar Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA akan mengalami pertarungan antara spritualitas agama dan spiritualitas memuja uang.

“Arah kedepan masyarakat Bali menurut pengamatan saya, dia berada pada pertarungan spiritualitas. Ada spiritualitas agama, ada spritualitas non agama (uang dan materi),” ungkap Prof. Bawa saat diwawancarai wartawan www.suluhbali.co di Kampus Undiksha Singaraja, Rabu (11/1).

Prof. Bawa menyebutkan spritualitas orang Bali idealnya mengarah pada Spririt dorongan agama Hindu sebagai jiwanya. Namun saat ini malah berada dalam peregulatan di persimpangan antara agama dan materi. “Saat ini berada di persimpangan jalan, apa terus akan menganut spiritualitas agama Hindu atau Spritualitas uang, materi dan moniterisme,” katanya.

Dari pengamatannya, disebutkan di lapangan ada yang telah pintar memadukan kedua Spritualitas, yakni agama dan uang, namun lebih besar arahnya malah ke orientasi uang. “Ada kecenderungan lebih banyak belokannya ke memuja materi, memuja uang, dimana kelihatannya itu,” ujar penulis buku “Ajeg Bali: Gerakan Identitas Kultur dan Globalisasi” ini.

Kondisi ini yang menurut Prof. Bawa memunculkan maraknya gerakan-gerakan Spritualitas Hindu di Bali, “gerakan yang dilakukan oleh orang untuk menarik orang Bali agar dia tidak mengarah ke Spritualitas agama Hindu,” ungkapnya.

Ia mencontohkan pertarungan spiritualitas agama dan uang seperti adanya pergeseran menurunnya kebersamaan masyarakat Bali karena lebih mementingkan uang. Seperti contohnya gotong royong di Bali semakin menipis, “jaman sekarang tidak ada uang tidak akan jalan,” katanya.

Menghadapi pertarungan ini, orang Hindu harus mampu mengembalikan Spritualitas agama Hindu. Cara lain, yakni dengan menyeimbangkan spiritualitas agama dan spiritualitas materi dalam kehidupannya.

Jika Tak Ingin Hindu Bali Punah, Jaga dan Rawat Sejarah

Kondisi pergulatan spiritualitas orang Bali yang meninggalkan Spritualitas agama Hindu cendrung  berbelok ke Spritualitas uang dan materi membuat kemungkinan terkikisnya Hindu Bali di tanah Bali.

Menurut Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA, Guru Besar Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) ada sedikit kemungkinan terkikisnya Hindu Bali namun masih dikuatkan oleh budaya Bali yang kuat. “mengikis habis sih gak, sejarah membuktikan tetap bertahan karena simpul-simpul budaya dan agama Hindu,” katanya.

Meskipun budaya, tradisi lokal, kearifan lokal seperti desa pakraman, dan lokal genius lain telah menguatkan dan menumbuhkan agama Hindu, namun ia mengatakan orang Hindu Bali tidak boleh acuh terhadap sejarah. “Kita tidak bisa lengah, jadi kalau kita tidak disertai usaha menjaga dan melakukan pembiaran bukti-bukti, sejarah membuktikan peradaban besar dunia mengalami kepunahan karena itu,” kata Prof. Bawa.

Ia menyarankan orang Bali harus tetap menjaga dan menguatkan sejarah. Hal ini dengan menguatkan kearifan lokal Bali, karena budaya lokal itu memiliki roh agama Hindu di dalamnya.

Berkaca dari kuatnya sejarah masa lalu, ia pun mengaku yakin Hindu Bali tidak akan pernah mengalami kepunahan. “Kalau kita optimis-optimisan Hindu Bali tidak akan pernah runtuh,” ujar penulis buku “Genealogi Keruntuhan Majapahit: Islamisasi, Toleransi dan Pemerintahan Agama Hindu di Bali” ini.

Menjaga eksistensi Hindu Bali juga dapat dilakukan dengan mewujudkan Bali Santhi. Dilakukan dengan menyeimbangkan antara spritualitas agama Hindu dan Spritualitas materi.(SB-Skb)

Comments

comments