Hari Kartini | Sudahkah Wanita Itu disejajarkan?

197

Oleh : I Wayan Supadma Kerta Buana

Bapak bangsa Presiden Dr. Ir Soekarno, Republik Indonesia pertama telah memberikan penghormatan tinggi kepada R.A Kartini atas jasanya dalam membangkitkan semangat wanita dalam mensejajarkan diri dengan laki-laki dalam setiap sendi kehidupannya. Sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, dengan menetapkan R.A Kartini sebagai Pahlawan Nasional dan menetapkan pula tanggal lahir R.A Kartini 21 April sebagai Hari Kartini yang diperingati sampai sekarang.

Sejarah telah mencatat, bahwa Ibu Kita Kartini adalah sosok wanita yang tergerak oleh pengalaman pribadainya yang dipingit dalam adat jawa, sehingga menyebabkan geraknya cukup terbatas dalam melakukan kegiatan-kegiatan penting, seperti pendidikan. Semua itu mengantarkannya untuk mendobrak belenggu ketidakadilan terhadap dirinya sebagai ketidakadilan terhadap kaum wanita. Akan tetapi meskipun dengan jalan yang sulit serta perjuangan yang begitu gigih kemudian beliau mampu mewujudkan kesamaan kedudukan itu dan telah menorehkan sejarah bahwa wanita juga memiliki kedudukan yang sama atas laki-laki.

Inilah torehan sejarah yang akan selalu dikenang dan diingat sepanjang masa berkat perjuangan seorang pahlawan nasional Wanita, R.A Kartini. Ia juga kemudian mengilhami berdirinya sekolah wanita di Semarang pada 1912, yang diberi nama “Sekolah Kartini” berada dibawah naungan Yayasan Kartini dan selanjutnya berkembang dan bermunculan sekolah-sekolah kartini di daerah Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

Semua itu adalah berkat dari hasil-hasil pemikiran Ibu kita Kartini yang menjadikan kedudukan seorang wanita adalah sama dengan laki-laki dalam segala aspek kehidupan. Bahkan yang peninggalan R.A Kartini yang akan selalu diingat adalah surat-surat yang ditulisnya kemudian dihimpun dan disusun dalam sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap terbitlah terang”. Pada buku inilah dimuat begitu banyak pemikiran-pemikaran R.A Kartini terhadap perjuangan atas kedudukan wanita yang terkait dengan ketidakadilan atas wanita dalam segala bidang kehidupan. Dan dia dalam surat-suratnya itu ingin menyuarakan bahwa wanita itu memiliki sebuah kelebihan dan tentunya berkedudukan sejajar dengan kaum laki-laki.

Banyak pemikiran-pemikiran R.A Kartini yang menginspirasi kaum wanita dalam memperjuangkan sebuah kesejajaran pada semua bidang kehidupan. Bahkan peringatan hari Kartini yang jatuh 21 April menjadi pengingat bangsa ini atas kedudukan dan peranan wanita begitu memiliki peranan penting bagi bangsa ini. Peringatan ini sebagai sebuah simbol bahwa kedudukan wanita dan laki-laki adalah sejajar, dan ketidak adilan terhadap kaum wanita bisa dihilangkan dari paradigma mayarakat Indonesia.

Melihat kenyataan pada era modern ini, tentunya wujud dari kesamaan gender dan kesejajaran wanita atas kaum laki-laki perlahan sudah semakin terwujud. Wujud nyata kesamaan gender itu bisa dilihat dari adanya sosok wanita yang bisa menjadi presiden wanita pertama di Indonesia, yaitu Megawati Soekarno Putri, adanya peraturan tentang pencalonan anggota legislatif yang mengisyaratkan adanya 30% untuk kuuto perempuan, dan bermunculannya kepala daerah wanita di Indonesia, serta diberikannya tugas-tugas strategis yang dipegang kendali oleh kaum wanita.

Akan tetapi kita juga tidak bisa mempungkiri, meskipun kesamaan gender itu terwujud dalam bentuk kepemimpinan yang dikendalikan oleh seorang wanita, masih ada juga yang memperlihatkan adanya kesenjangan kedudukan antara wanita dan laki-laki. Paradigma yang menyebutkan bahwa wanita berada di bawah kaum laki-laki seakan tidak bisa dihilangkan dalam persepsi maysyarakat. Bahkan hal ini banyak dijumpai di daerah-daerah pedesaan yang malah mengabaikan pendidikan anaknya, alasanya cukup klasik yaitu karena mereka berstatus perempuan. Ini adalah paradigma yang telah berkembang sejak dahulu kala sudah terukir dalam dalam pikiran mereka yang beranggapan wanita itu akan dimiliki orang lain, dan yang harus diutamakan adalah laki-laki yang akan tetap berada dirumah orang tuanya.

Hal lain yang sangat miris dan memprihatinkan adalah ketika berbicara kesamaan gender selalu didengung-dengungkan oleh setiap orang dalam setiap tahunnya pada peringatan Hari Kartini, Sedangkan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan seorang wanita sebagai korban pun selalu ada disetiap tahunnya. Tentu ini akan menjadi dilematis ketika kita dihadapkan dengan kesadaran akan hari Kartini akan tetapi kenyataannya wanita selalu dihadapkan oleh ketidakadilan dalam kehidupannya.

Seharusnya melalui momentum Hari Kartini yang diperingati setiap tahun menjadi pedoman seseorang khususnya seorang laki-laki untuk selalu menghormati sosok wanita. Kesadaran akan kesamaan gender kesejajaran wanita dan laki-laki pun sudah seharusnya sudah menjadi paradigm berpikir dalam segala sendi kehidupan. Kelompok kaum laki-laki semestinya tidak boleh merasa bahwa dirinya lebih tinggi kedudukannya terhadap kaum wanita.

Berbicara dari sudut agama Hindu, ajaran agama pun telah mengajarkan kita untuk selalu menghargai dan menghormati kedudukan seorang wanita. Bahkan dalam ajaran Hindu tidak ada yang menyebutkan adanya tinggi rendah kedudukan wanita maupun laki-laki, karena sesungguhnya kedudukan manusia adalah sama yang hanya dibedakan oleh karma masing-masing. Dalam Manawa Dharmasastra I.32 telah menyebutkan bahwa kedudukan wanita dan laki-laki itu adalah sama dan kedua unsur ini akan bersatu untuk menciptakan kehidupan, sehingga keduanya ini begitu sangat penting dalam kehidupan, berikut bunyinya :
Dwidha kartwatmanodeham
Ardhena purusa bhawat
Ardhena nari tasyam sa
Wirayama smrjat prabhuh

Terjemahannya:
Tuhan membagi dirinya menjadi sebagian laki-laki dan sebagian menjadi perempuan (ardhanari). Darinya terciptalah viraja.

Bahkan selanjutnya ajaran Hindu begitu jelas menyebutkan hukum dari tidak menghormati wanita adalah kehancuran dalam setiap kegiatan yang dilakukaknnya seperti berbunyi pada menawa dharmasastra bab III sloka 56 sebagai berikut:

Yatra naryastu pujyante

Ramante tatra dewata,

Yatraitastu na pujiante

Sarwastalah kriyah

 

Terjemahannya :

Dimana wanita dihormati, disanalah para dewa-dewa merasa senang, tetapi dimana

mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang berpahala.

Begitulah mulianya seorang wanita dalam ajaran Hindu yang seharusnya sudah menjadi satu kesatuan utuh dengan pemikiran R.A Kartini sebagai pedoman dalam menghargai kedudukan wanita sejajar dengan laki-laki. Kelemahan yang dilihat secara fisik berkaitan dengan kekuatan mestinya tidak dijadikan sebagai tolak ukur dalam melihat kekuatan seorang wanita. Kekuatan wanita dilihat dari kelembutan, kemampuan, dan pemikiran-pemikirannya, sebagai kemuliaan. Momen hari Kartini inilah sebagai umat beragama maupun sebagai seorang nasionalisme untuk menyadarkan diri dan merenungkan diri terhadap arti pentingnya wanita dan keutamaan wanita sebagaimana cita-cita perjuangan R.A Kartini.

Comments

comments