Hari Ini Umat Hindu Gelar “Tumpek Kandang”

180

SULUH BALI, Denpasar – Umat Hindu di Bali menggelar kegiatan ritual Tumpek Kandang dengan mempersembahkan rangkaian janur (banten) kombinasi bunga, kue dan buah-buahan khusus ditujukan untuk hewan peliharaan.

“Kegiatan ritual yang digelar setiap 210 hari sekali ini umat memuja Ida Betara Siwa dalam manifestasi sebagai Rare Angon,” kata Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana Institut Hindu Dharma Indonesia Negeri (IHDN) Denpasar, Dr I Ketut Sumadi, Sabtu.

Ia mengatakan, kegiatan ritual pada hari yang istimewa tersebut merupakan korban suci untuk semua jenis hewan yang hidup di alam semesta, namun umumnya ditujukan terhadap hewan peliharaan seperti sapi, babi, ayam dan usaha ternak kreatif lainnya.

Tradisi Tumpek Kandang itu bermakna memberikan kesucian terhadap hewan yang dipelihara masyarakat itu agar mampu memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. Oleh sebab itu, hampir semua kandang sapi, kerbau, ayam maupun babi milik petani di Bali, terutama di daerah “gudang beras” Kabupaten Tabanan, pada hari Tumpak Kandang, tampak lain dari hari-hari biasanya.

Masyarakat Bali mewarisi Tumpak Kandang untuk menjaga tradisi memelihara kelestarian alam, keseimbangan ekosistem dalam mewujudkan hubungan yang harmonis sesama umat manusia, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa (Tri Hita Karana). Ketut Sumadi menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap kali mengonsumsi daging yang bersumber dari hewan.

“Mengonsumsi daging hewan sedikit banyak membawa pengaruh terhadap tabiat, sifat dan karakter manusia,” ujar Ketut Sumadi.

Oleh sebab itu, pada Hari Tumpek Kandang, umat manusia hendaknya dapat menyucikan diri, untuk menetralisasi kekuatan-kekuatan hewan atau binatang dalam diri.

Perayaan Tumpek Kandang yang umumnya dilakukan di masing-masing kandang tempat peliharaan hewan itu juga dapat dipandang sebagai rasa terima kasih dan rasa syukur manusia Bali kepada Tuhan yang telah menciptakan flora dan fauna untuk kesejahteraan umat manusia. Tumbuh-tumbuhan dan hewan memiliki andil dan jasa yang besar untuk menopang kehidupan manusia.

Hubungan harmonis ini sangat perlu dilaksanakan sebagai bagaian dari keseimbangan alam semesta beserta segala isinya. Manusia tidak hanya hidup sendiri di dunia ini, karena manusia masih memerlukan alam dalam melanjutkan kelangsungan kehidupan di dunia ini.

 

Selain dimaknai sebagai bagian dari rasa kasih, bagi manusia itu sendiri menyucikan diri dengan menjaga diri dari sifat-sifat buruk akan memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Hewan terkadang diidentiikan dengan hal-hal yang buruk sehingga hari suci ini sangat baik dijadikan sebagai momentum untuk menjauhkan diri dari sifat-sifat hewan yang berdampak buruk terhadap kehidupan manusia itu sendiri.

Hari tumpek kandang iniliah yang patut dimaknai sebagai bahan perenungan terhadap rasa kasih kepada sesama mahluk hidup khususnya hewan dan juga khusus bagi manusia senantiasa dapat menghilangkan pengaruh buruk dari sifat-sifat hewan yang ada dalam dirinya. (SB-Ant/Su)

Comments

comments