Hadiri Deklarasi Kebangsaan, Presiden Jokowi Ingatkan Kampus Jangan Jadi Tempat Penyebaran Paham Anti Pancasila

12

SULUH BALI, Mangupura – Presiden Indonesia Joko Widodo menghadiri Deklarasi Kebangsaan Perguruan Tinggi se-Indonesia Melawan Radikalisme, di Peninsula Island, Nusa Dua,  Badung, Selasa (26/9). Dalam sambutannya dihadapan  sekitar 3000 Rektor dari seluruh Universitas di Indonesia, Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Perguruan tinggi  adalah kawahnya pengetahuan, sumbernya  pencerahan sehingga  sangat berbahaya kalau sudah menjadi tempat berkembangnya ideologi radikal. “Jangan sampai kampus jadi penyebaran anti ideologi, anti Bhineka Tunggal Ika. Apabila kita cinta Indonesia, cinta Pancasila, cinta Bhineka Tunggal Ika kita harus hentikan semua aksi radikalisme dan terorisme, “ imbuhnya.

Presiden Jokowi mengemukakan, bahwa sekarang ini telah terjadi infiltrasi ideologi yang ingin menggantikan Pancasila dan memecah belah Indonesia. Infiltrasi ini muncul dengan cara-cara baru, halus, lembut, dengan pendekatan yang akrab, dan sering menyentuh hati  sehingga kita lupa kalau kita memiliki Pancasila. “Kuatkan persatuan, kuatkan persaudaraan. Jangan sampai hasil kerja keras untuk anak cucu kita hancur karena radikalisme, hancur karena terorisme. Untuk itu saya bangga dan apresiasi  kegiatan ini yang  mendeklarasikan kebulatan tekad pada Pancasila dan berpegang teguh  pada UUD 45, “ tuturnya.

Pada bagian lain, Presiden Jokowi yang didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Mentri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Indonesia Mohamad Nasir dan Gubernur Bali Made Mangku Pastika juga meminta agar Perguruan Tinggi untuk dapat lebih inovatif dan berani  melakukan terobosan untuk membuka program studi atau jurusan sesuai dengan perkembangan zaman seperti jurusan logistik, jurusan retail manajemen dan jurusan inovatif lainnya. Presiden juga meminta agar pembinaan Ideologi Pancasila dimasukkan lagi dalam sistem pendidikan  dan menjadikan kampus sebagai tempat tumbuhnya kerukunan dan  persaudaraan, bukan sebagai tempat tumbuhnya paham radikalisme dan terorisme.

“Kita jadikan kebhinekaan dan keragaman sebagai  sumber kekuatan, bukan menjadi perpecahan. Kita tanamkan nilai-nilai persatuan sejak awal. Dengan kebersamaan kita rawat NKRI, kita rawat Pancasila dan kebhinekaan yang kita miliki “pungkasnya.  Presiden Jokowi juga  menyampaikan pentingnya menjaga kerukunan karena Indonesia negara besar yang memiliki 714 suku, beragam bahasa, dan 17.000 pulau dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 258 juta jiwa. (SB-humprov)

Comments

comments