Hadapi Gempuran Idiologi Lewat Media Sosial, Penataran P4 Perlu Dihidupkan Kembali

92

Diskusi terbuka bertajuk “Seberapa Tahannya Pancasila di Media Sosial”, di Gedung PWI. |foto-sem|

 

SULUH BALI, Denpasar – Eksistensi Pancasila sebagai dasar negara kita menghadapi tantangan yang sangat berat, ditengah gempuran media-media sosial yang dibawa oleh kemajuan teknologi informasi. Bahkan kini media mainstream tak kurang juga mendapat tantangan sekaligus ancaman karena kehadiran media-media sosial dan media online yang langsung bisa diakses dari dalam genggaman berupa handphone pintar (smartphone) tersebut. Murah, cepat, efektif, dengan jangkauan yang sangat luas.

Semua kalangan bebas mengakses kontens media sosial ini. Informasi (berita), hiburan, ilmu pengetahuan, bahkan diskusi, kritik terhadap kekuasaan, termasuk idiologi bisa dengan mudah disusupkan lewat media-media sosial ini. “Tapi sayangnya, sebagian besar dari kita masih belum mampu memaksimalkan manfaat dan keuntungan dari hadirnya media-media sosial itu,” ungkap Hery Angligan. Sementara itu menurut pengalaman dan pengamatan seniman senior Raka Santeri, media sosial itu sering “kejam”. Karena di media sosial tidak pandang bulu, siapapun bisa dikritik bahkan cacian, makian. “Tapi kita sering terlambat mengantisipasinya,” katanya.

Sementara itu, Pancasila sebagai dasar negara dan idiologi negara kita juga terus-menerus mendapatkan gempuran. “Sudah seyogyanya model penataran P4 itu dihidupkan lagi. Terlepas dari kekurangannya, terhadap nilai-nilai Pancasila di jaman Soeharto saya nilai sangat bagus. Dia berani tegas. Dan itu sangat dibutuhkan,” ungkap wartawan senior Komang Suarsana. Bahkan pendapat yang tajam dikemukakan oleh Made Arjaya, yang menyebut kehadiran sosial media yang dibawa oleh teknologi informasi sebagai sebuah evolusi dan juga revolusi. Ia pun sepakat untuk menghidupkan kembali model penataran P4.

Pendapat dan penilaian tersebut mengemuka saat diadakan diskusi terbuka bertajuk : Seberapa Tahannya Pancasila di Media Sosial, di Gedung PWI, Rabu (26 Agustus 2015). Hadir sebagai pembicara Ray Misno, Ngakan Made Giriasa, Marlowe Bandem dan Dwikora Putra yang dipandu oleh Iwan Dharmawan. Dalam diskusi yang dihadiri oleh kalangan wartawan, professional, mahasiswa dan tokoh masyarakat tersebut muncul kekhawatiran, kehadiran media-media sosial yang banyak jumlahnya belakangan ini, juga rentan disusupi sekaligus menjadi alat penyebaran idiologi yang bertentangan dengan idiologi Pancasila. (SB-Rka).

Comments

comments