Guru Bahasa Bali “Sedih Lihat Lontar Dimakan Rayap”

0
421

Ni Nyoman Sri Ariestini (foto-raka)

SULUHBALI.CO, Denpasar – Setelah kuliah di Jurusan Sastra Bali, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, dirinya baru ngeh, kalau di rumahnya banyak ada lontar-lontar peninggalan leluhurnya. Hanya saja kondisi lontar-lontar tersebut sangat memprihatinkan. “Saya baru ngeh (tahu) di rumah ada beberapa lontar. Katanya itu peninggalan leluhur kami. Isinya kebanyakan perihal  tutur-tutur. Hanya saja banyak yang sudah dimakan rayap. Saya jadi sedih,” kata Ni Nyoman Sri Ariestini, Alumni Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Bali, Universitas Udayana, tahun 2013 ini.

Ditemui saat mengikuti Workshop Penulisan Jurnalistik di Suluhbali,  kelahiran Denpasar, 7 April 1991 ini mengaku sangat hobi membaca, terutama karya-karya sastra berbahasa Bali. “Saya suka membaca, terutama karya-karya sastra berbahasa Bali. Baik karya yang ada di koran, novel, serta buku-buku. Sangat menarik, karena banyak berisi nilai-nilai kehidupan seperti budi pekerti , tentang budaya Bali, banyak  yang bisa saya dapatkan dari sana,” katanya. Hanya saja ia ngaku tidak pede untuk menulis. “Dari dulu ada keinginan untuk menulis. Ya itu tadi, saya belum punya keberanian. Makanya begitu saya baca ada workshop pelatihan jurnalistik di suluhbali, saya langsung tertarik dan ikut. Saya pingin tahu gimana caranya menulis yang baik dan benar,” ia menambahkan.

Setelah tamat dari bangku kuliah, gadis kelahiran Peguyangan Kaja ini kini mengabdikan ilmunya sebagai Guru di SD 6 Peguyangan dan SMP PGRI 9 Denpasar. “Ya disamping untuk ngisi waktu luang, karena libur. Dengan ikut workshop menulis jurnalistik ini. Siapa tahu akan banyak berguna bagi anak didik saya nanti,” kata putri pasangan I Ketut Subadra (alm) dengan Ni Made Sukerni ini.

Pemilik postur 175 cm ini kedepannya punya tekad akan terus menggali, mempelajari, dan merawat lontar-lontar maupun karya-karya sastra Bali yang ia akui begitu besar nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Kini ia pun bertekad mulai sekarang akan terus menulis. “Setelah dapat teori, teknik dan tip-tip menulis yang diterangkan tadi saya jadi tambah semangat,” kata bungsu dari 3 bersaudara yang skripsinya juga membedah karya sastra Bali dengan judul : Hegemoni Pedagang Cina Terhadap Rakyat Sanur dalam Teks Novel Biyar-Biyur Ring Pesisi Sanur, Karya Nyoman Manda. (SB-Raka).

Comments

comments