Gunung Agung ‘Pingit’, Mendaki Tak Boleh Berhias dan Pantang Bicara

212
Cok Sawitri

SULUH BALI, Denpasar – Gunung Agung merupakan gunung yang disucikan oleh umat Hindu disekitaran wilayah Karangasem dan juga di Bali. Budayawan asal Sidemen, Karangasem, Cok Sawitri menyebutkan Bhatara Gunung Agung tidak sembarangan disebutkan atau pingit.

“Saat Ida Bhatara Gunung tedun, penjor plastik baliho semua harus diturunkan,” ungkapnya pada Dialog dan Diskusi Buku “Gunung Agung dalam Dongeng, Legenda dan Novel” di Denpasar, Sabtu (14/10/2017).

Cok Sawitri juga menyebutkan pendakian gunung Agung tidak sembarangan bisa dilakukan, kecuali dalam melaksanakan ritual nunas tirta yang dilakukan dalam setiap upacara yadnya yang dilakukan dengan melakukan brata (pantangan).

“Ten dadi mepayas, ten dadi ngomong (tidak boleh berhias, tidak boleh berbicara),” katanya.

Gunung Agung diyakini sebagai pusat lingga setelah Batur purba, Bhatara Gunung Agung bergelar Pasupati sebagai Bhatara yang besar dan tinggi. Merupakan bagian dari gunung penyangga Bali.

Pada sekitaran Gunung Agung disebutkan tiga kaitan penting yakni Gunung Agung, Pura Besakih dan Pura Pasar Agung yang ketiganya tidak dapat dipisahkan keberadaannya yang saling terkait.

“Gunung Agung , Pasar Agung, Besakih menentukan kalender upacara Besakih,” kata Cok Sawitri.

Masyarakat disekitaran Gunung Agung juga meyakini sorga itu berada di gunung Agung, ini juga diyakini sejak lama seperti penuturan orang tua Cok Sawitri yang juga pernah menyaksikan erupsi Gunung Agung tahun 1963 silam. Selain Gunung Agung,  juga disebut dengan nama Tohlangkir, Basukir, Kaki Patuk dan  Nini Patuk. (SB-Skb)

 

Comments

comments