Gubernur Pastika Gandeng Badan Akreditasi Australia

23

SULUH BALI, Denpasar – Gubernur Bali Made Mangku Pastika menggandeng badan akreditasi “The Australian Council on Healthcare Standards (ACHS)” untuk menyiapkan RS milik pemprov setempat agar berstandar internasional.

“Lembaga akreditasi dari Australia ini datang membantu kita untuk menyiapkan rumah sakit-rumah sakit kita untuk berstandar internasional, baik Rumah Sakit Bali Mandara, Rumah Sakit Mata Bali Mandara, bahkan RS Jiwa di Bangli juga,” kata Pastika saat meninjau RS Mata Bali Mandara di Denpasar, Rabu.

Dengan demikian, lanjut dia, berbagai RS milik Pemprov Bali bisa dimanfaatkan oleh dunia internasional. ACHS sendiri merupakan badan akreditasi perawatan kesehatan terkemuka di Australia. ACHS juga dipercaya untuk memberikan akreditasi rumah sakit di seluruh dunia.

“Karena banyak wisatawan ke sini, kalau misalnya mereka memerlukan perawatan atau pengobatan mereka tidak perlu jauh-jauh pulang, karena kita sudah punya yang standar internasional,” ucap Pastika, didampingi Executive Director dari The Australian Council on Healthcare Standards (ACHS) Dr Lena Low, JP dan Dr Nick Collin Rumah Sakit Bali Mandara menjelang beroperasinya akan digenjot untuk mendapatkan akreditasi rumah sakit, sedangkan RS Mata Mali Mandara sudah memiliki akreditasi yang dikeluarkan oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Indonesia.

“Tidak banyak saya kira hal untuk menyesuaikan sedikit lagi, nanti ada analisa gap atau ‘gap analysis’. Akan dianalisa mana kesenjangannya, seberapa jauh kesenjangannya dan inilah yang akan dikerjakan. Jadi mereka akan melakukan Gap analysis, agar tahu standarnya yang seharusnya begini, yang kita punya begini, dan seberapa jauh. Inilah yang dikerjakan supaya gap ini makin pendek-makin pendek lagi dan kemudian bisa sama,” ujar Pastika.

Sementara itu, Direktur RS Mata Bali Mandara dr Made Yuniti menambahkan, pihaknya akan melakukan persiapan menjelang pelaksanaan bimbingan dari tim ACHS.

“Manfaatnya akreditasi itu untuk keselamatan pasien. Standar internasional yang diberlakukan jauh berbeda dengan rumah sakit yang belum terakreditasi. Selain itu, untuk peningkatan pelayanan dan manajemen risiko agar tidak terjadi kegagalan dalam memberikan pelayanan,” ujar Yuniti. (SB-ant)

Comments

comments