Gubernur Minta Percepat Relokasi Korban Longsor Kintamani

70
Gubenur Mangku Pastika sedang menengok bayi yang jadi korban longsor di RSUD Bangli (foto humas.Bali).

SULUH BALI, Bangli — Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta pihak-pihak terkait untuk mempercepat proses relokasi 23 kepala keluarga korban longsor di Desa Songan, Kabupaten Bangli.

“Sebanyak 12 dusun di seberang Desa Songan pun harus dicarikan solusi agar tidak terisolasi. Oleh karena itu, bagaimana area ini bisa dibersihkan mengingat masih memungkinkan akan terjadinya longsor susulan, selain dapat memberikan pertolongan yang cepat kepada korban,” kata Pastika saat mengunjungi lokasi longsor di Desa Songan, Kintamani, Kabupaten Bangli, Selasa (14/2/2017).

Dalam kunjungannya itu, Pastika melihat secara langsung parahnya “zona merah” bencana yang ada di Desa Songan tersebut, yang menyebabkan sejumlah rumah ambruk tertimpa longsor, bahkan terdapat pula buku-buku pelajaran siswa yang berserakan di lokasi.

Akibat longsor beberapa hari lalu, tujuh warga di Desa Songan meninggal dunia. Selain itu juga masih terdapat sebanyak 20 titik infrastruktur jalan yang berpotensi akan jebol.

“Relokasi bagi korban longsor kami harapkan berdekatan dengan wilayah yang ada hutannya, sehingga mereka dapat berkebun lagi seperti sediakala,” ucapnya.

Pastika pun meminta agar ada koordinasi penanganan infrastruktur bencana yang menghambat mobilitas warga setempat ini dapat ditangani dengan cepat.

“Harus dilakukan rapat intern antara instansi terkait, mulai dari Dinas PU Provinsi Bali, Balai Jalan, Dinas Kehutanan mencakup Kementerian Kehutanan yang membidangi, dan setelah itu laporkan ke saya terkait keputusan akan dilakukan tindakan seperti apa bagi masyarakat di sini,” ujarnya.

Rapat antara instansi terkait baik dari kabupaten dan juga provinsi ini akan dilaksanakan pada 17 Februari mendatang, sehingga tidak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk menangani musibah yang membutuhkan perhatian cepat ini.

Selain itu, dia mengingatkan agar BPBD kabupaten, kota dan provinsi harus diperkuat, karena bencana alam itu tidak ada yang mampu mencegah. Fokus terhadap kinerja yang mengedepankan pada konsep mitigasi atau mengurangi korban.

“Hal ini mengingat cuaca buruk masih akan terjadi beberapa minggu ke depan, sehingga sangat penting dilakukan mitigasi,” ucapnya.

Selain itu, Pastika juga meminta agar segera dilakukan rapat terkait penanganan infrastruktur jalan yang menghubungkan Desa Songan menuju ke Buleleng dan Karangasem, sehingga 23 zona merah ini cepat tertangani.

Dalam peninjauannya ini, Gubernur Pastika yang didampingi oleh Kepala BKD Bali Ketut Rochineng, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra juga menyerahkan santunan sebesar Rp10 juta kepada 13 korban meninggal dunia yang diterima oleh masing-masing keluarga korban, dan sejumlah biskuit dari Nyonya Ayu Pastika kepada pengungsi korban longsor.

Setelah meninjau lokasi longsor di Desa Songan, Pastika beserta rombongan juga sempat datang ke posko penanganan korban longsor. Di posko ini masih terdapat sejumlah bantuan yang diperuntukkan bagi korban, mulai dari bahan makanan pokok hingga keperluan fisik seperti selimut dan pakaian.

Tempat terakhir yang dikunjungi Gubernur Bali berserta rombongan termasuk Wakil Bupati Bangli Sedana Arta adalah korban luka akibat longsor di RSUD Bangli, di antaranya I Wayan Budiana (18), Ni Nyoman Tristasari (12) dan seorang bayi berumur dua bulan yang selamat dari pelukan kakeknya, namun sang kakek tidak bisa tertolong dari timbunan tanah longsor.

Oleh karena bayi ini belum punya nama, maka secara spontan Gubernur Pastika memberikan nama Gede Selamet. Ketiga anak ini akan diberi santunan masing-masing sebesar Rp5 juta dari BPBD Bali. (SB-ant)

Comments

comments