Gubernur Minta Jangan ada Opini Seram Terkait Gunung Agung

221
Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Denpasar (foto humas.Bali).

SULUH BALI, DENPASAR – Gubernur Bali, Made Mangku Pastika membantah dengan tegas terkait sejumlah pemberitaan yang beredar di media masa selama ini yang memberitakan kondisi Gunung Agung yang sangat menyeramkan dan berdampak pada krisis.

Menurutnya media masa terlalu membesar-besarkan isu terkait kondisi dan status gunung Agung yang sesungguhnya biasa biasa saja. “sesungguhnya yang membikin turis turun itu ya teman teman media itu. Semua bikin posko (crisis centre) seolah-olah krisisnya luar biasa, tidak ada (tidak ada krisis seperti pemberitaan yang beredar, red) ujarnya saat memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali, pada Selasa (3/10/2017).

Menurutnya, meskipun gunung agung meletus, sebenarnya tidak akan berdampak apa apa bagi masyarakat Bali dan tidak ada korban jiwa karena masyarakat yang tinggal di daerah kawasan rawan bencana (KRB) sudah dievakuasi.

Mereka yang dievakuasi sebenarnya hanya 28 desa yang masuk dalam radius 12 kilo meter. Namun, karena masyarakat panik, desa yang sesungguhnya tidak masuk dalam radius 12 km juga ikut mengungsi sehingga menambah jumlah data pengungsi yakni 78 Desa.

Dari 78 desa tersebut sesungguhnya hanya 28 desa yang perlu dievakuasi. Sementara untuk yang 50 desa ini tidak perlu evakuasi karena masih dalam posisi aman atau jauh dari dampak letusan gunung Agung. “Jadi kalau gunung Agung mau meletus udah ga ada apa apa (tidak ada orang karena sudah dievakuasi), hari ini pun meletus tidak ada korban saya jamin, tidak ada, jadi kenapa mesti takut (gunung agung meletus),” ujarnya.

Pastika menjelaskan jika gunung Agung meletus hanya berpengaruh pada penerbangan karena semburan abu dan itu pun hanya 1 hari. “Bandara ditutup pun hanya sehari, Itu pun kalau arah anginnya ke airport. Jadi ga ada seru seru loh ya. Jadi saya heran juga ya semua bikin posko, sebenarnya bikin crisis centere juga ini saya kurang setuju loh ya, karena apanya yang krisis. Semuanya berjalan seperti biasa. Jangan diseruseruin lah. Kan jadi seru banget jadinya ini,” ujarnya.

Gubernur Bali ini menghimbau agar isu gunung Agung ini jangan dibanding bandingkan dengan kejadian pada tahung 1963. Karena waktu itu sistem pemerintahannya tidak terstruktur. Beda dengan sistem pemerintahan jaman sekarang yang terstruktur.

Karena itu, lanjutnya, pemberitaan bahwa jika bandara Ngurah Rai tutup maka ada 10 bandara baru nanti yang akan disiapkan untuk menurunkan penumpang pesawa. “Jadi pemberitaannya seru, tidak perlulah (pemberitaan yang seru seru), jadi tolonglah. Bahkan ada isu beredar bahwa Kuta akan tenggelam jika gunung Agung meletus, Nusa Dua hancur, Bali juga hancur, seolah olah serem amat. Padahal dampaknya cuman radius 12 kilo meter. Itu hoaks itu,” ujarnya.

Akibat dari pemberitaan yang beredar sejumlah negara mengeluarkan travel warning untuk tidak datang ke Bali. Padahal sesungguhnya Bali ini aman aman saja. Ada 35 hotel di Bali yang telah membatalkan sejumlah bookingan, karena takut dengan pemberitaan gunung Agung. Sejumlah tawaran bantuan dari luar negeri pun ditolak. Salah satunya bantuan dari Amerika yang ingin memberikan bantuan kepada para pengungsi, namun bantuan itu ditolak oleh gubernur Bali karena Indonesia masih memiliki anggaran yang cukup banyak. (SB-Rio)

 

Comments

comments