Genjek Karangasem, di Seraya Setiap Kuningan “Ngadegang Taksu Genjek”

147

SULUH BALI, Denpasar – Berbicara genjek tidak bisa lepas dari daerah Seraya, Karangasem karena diyakini oleh masyarakat setempat dari sanalah awal mula kemunculan seni genjek di Karangsem.

Bahkan uniknya, menurut Dr. Ida Bagus Nyoman Mantra yang meneliti genjek Seraya menyebutkan ada hari suci yang memang khusus ditujukan untuk ngadegang (memohon)  taksu genjek.

“Di Seraya pada hari kuningan ngadegang taksu genjek,” ungkap Dosen Universitas Mahasaraswati pada Seminar Seri Sastra dan Budaya dengan tema “Seni Genjek: Dilema Menghapus Citra Pertunjukan Mabuk, Selasa (31/1) di Audiotorium Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Memohon taksu genjek dilakukan oleh masyarakat setempat secara bersama-sama melakukan persembahyangan dan setelahnya disertai dengan mengenjekan.

“Sekitar jam 6 udah mulai megenjekan berkumpul di bale banjar,” kata Mantra.

Megenjekan katanya juga telah dilakukan sehari sebelumnya, sampai dengan pada saat hari Kuningan saat dilaksnakannya ngadegang taksu genjek. “Megenjekan sudah dari kemarinnya,” ujarnya.

Genjek sebagai tradisi lisan yang ada di Kabupaten Karangasem yang bersumber di Seraya disebutkan telah muncul semenjak jaman kerajaan sebagai kebersamaan.

Diciptakan saat menyusun startegi dilakukan megibung biasanya berkumpul bersenda gurau. Setelah bekerja di sawah ladang, laut melantunkan toreng dibuatkan lirik diramaikan dengan nada cipak menirukan suara kendang cengceng riong.

Seraya juga diyakini awal dari genjek yang kemudian berkembang di seluruh Balu. Pada waktu gunung meletus banyak pergi ke tempat lain di seluruh Bali membawa genjek. (SB-Skb)

Comments

comments