Gema Perdamaian, Memelihara Kasih Sayang (foto – raka)

SULUHBALI.CO, Denpasar — Hari Sabtu, 5 Oktober 2013, Gema Perdamaian atau Echo of Peace yang ke – XI kembali digelar. Bertempat di lapangan Niti Mandala Renon bagian utara, tepatnya di depan Kantor Gubernur Bali, acara yang diselenggarakan setiap tahun ini, bertujuan untuk menggaungkan doa perdamaian antar umat beragama di Indonesia , khususnya di Bali, tanpa membedakan suku, adat, istiadat, warna primordial status atau cara pandang satu dengan yang lainnya.

Acara ini sendiri mulai dengan beragam pertunjukan mulai dari tarian Kuda Lumping, Tarian Hanoman,dan Demo Asrham Ratu Bagus. Kemudian dilanjutkan dengan membuka prosesi Padayatra, lalu para tamu undangan, peserta dan pengunjung Gema Perdamaian berjalan mengitari lapangan Niti Mandala Renon bersama-sama, sambil membawa bendera merah putih, dengan diiringi oleh bleganjur.

Menurut ketua Panitia Gema Perdamaian, Made Suryawan, acara Gema Perdamaian tahun -tahun sebelumnya dilaksanakan tepat pada tanggal 12 oktober, namun sejak tahun 2012 ditetapkan untuk dilaksanakan pada hari sabtu yang terdekat dengan tanggal 12. Karena melaksanakan kegiatan sebelum tanggal 12 oktober,  merupakan simbolisasi kewaspadaan pada bencana kemanusiaan “Bom Bali”, selain itu mengingat pada tanggal 2 Oktober juga  adalah hari tanpa Kekerasan se-Dunia dan sebagai sesama manusia semoga kita selalu diberikan kasih dan memelihara kasih itu bersama – sama dan jangan takut dengan adanya konflik, karena konflik tersebut bisa diatasi dengan berbasiskan damai, demikian tegasnya dalam pidato.

Wagub Sudikerta yang mewakilkan Gubernur Made Mangku Pastika, juga menyampaikan lewat pidatonya, bahwa Gubernur mendukung kegiatan ini secara berkelanjutan dan berkesinambungan dalam mewujudkan reaktualisasi nilai – nilai keagamaan dan nilai – nilai kemanusiaan yang universal untuk mewujudkan kedamaian di muka bumi ini. Ditengah kompleksnya kegiatan pembangunan dan kemasyarakatan juga  arus globalisasi, kegiatan lintas agama dan suku seperti ini, menjadi cerminan harmoni sosial yang tumbuh di masyarakat Bali, jelasnya.

Pada akhir acara, Wagub Sudikerta memberikan sumbangan untuk acara Gema Perdamaian  ini yang dilanjutkan dengan penyerahan Wayang Dewi Kasih Kayang  dari Sinuhun Ketua FSKN, Kanjeng Adi Pati Haryo Djojonegaro  kepada Wagub Sudikerta.  Dan puncak acara dilanjutkan berupa doa bersama seluruh umat beragama untuk perdamaian yang dipimpin oleh para pemuka agama dan ditutup dengan pelepasan 30 burung dara, 15 pasang balon dan pertunjukan Barongsai dan Musik Bambu. (SB-Pus)

Comments

comments

Comments are closed.