Ganesha | Dewa Pengetahuan dan Kekuatan Penjaga

1987
Ganesha Pura Belatung, Buleleng yang masih utuh, setelah diterjang banjir bandang. (foto oleh Bagus Mantra).

SULUH BALI, Denpasar – Beberapa hari yang lalu, ada satu kisah keajaiban dimana salah satu pura yang berada di Buleleng diterjang banjir bandang, namun patung yang berbentuk arca Bhatara Gana (Ganesha) di pura itu tetap kokoh berdiri.

Pura yang bernama Pura Taman Belatung terletak di Desa Banyupoh, Kabupaten Buleleng seakan menyimpan nilai religius, dimana diantara bangunan-bangunan yang mengalami kehancuran hanya patung Bhatara Gana yang aman dari terjangan banjir itu.

Lalu, siapa sebenarnya Bhatara Gana dalam mitologi Hindu Bali? Bagaimana perannya dalam tatanan keyakinan masyarakat Bali?.

Kepopuleran tokoh Bhatara Gana atau yang lazim disebut dengan Dewa Ganesha di Bali bisa dibilang baru muncul beberapa tahun ini. Hal itu ditunjukan dalam bentuk patung perwujudan beliau yang baru popular diposisikan di depan rumah, pura, kantor maupun sekolah-sekolah.

Namun sesungguhnya, di Bali pemujaan terhadap Bhatara Gana sendiri sudah berkembang setelah abad ke IX. Keberadaanya dibuktikan dengan adanya sekta Ganapatya yang pemujaannya ditujukan kepada Bhatara Ganapati.

Dalam lontar Ganapati Tattwa disebutkan bahwa Bhatara Gana merupakan sosok dewa kecerdasan atau dewa pengetahuan. Pada lontar ini diceritakan tentang bagaimana kecerdasan dari Bhatara Gana yang mengajukan tanya jawab tentang pencipataan kepada Bhatara Guru (Dewa Siwa).

Bhatara Guru (Dewa Siwa) sendiri tiada lain adalah ayah dari Bhatara Gana, dalam lontar Ganapati Tattwa inilah Bhatara Guru memberikan ajaran-ajaran terkait dengan asal-usul dunia sampai dengan cara mencapai kelepasan roh (moksa).

Lokasi Pura Belatung di Banyupoh Buleleng yang di terjang banjir bandang. Terlihat patung Ganesha yang masih aman. (foto Bagus Mantra).
Lokasi Pura Belatung di Banyupoh Buleleng yang di terjang banjir bandang. Terlihat patung Ganesha yang masih aman. (foto Bagus Mantra).

Dalam lontar Andha Buwana, Bhatara Gana disebutkan sebagai penenung dengan membawa “Tenung Aji Wariga”. Kekuatan tenung itu akan bisa mengetahui tentang semua kejadian yang dialami sebelumnya, meskipun berbohong namun akan terlihat kebenaran yang sesungguhnya.

Seperti misalnya diceritakan pada saat Bhatari Uma mencari susu untuk mengobati Bhatara Guru (Bhatara Siwa). Bhatari Uma memperoleh susu dengan cara tidak benar, akan tetapi berbohong mengaku memperoleh susu dengan cara benar. Namun, Bhatara Gana dengan “Tenung Aji Wariga” membuka kebenarannya hingga Bhatari Uma mengakui kesalahannya.

Disisi lain, Bhatara Gana yang memiliki kemampuan sebagai Dewa jnana atau pengetahuan, Bhatara Gana juga merupakan Dewa penjaga. Bhatara Ganapati merupakan dewanya para gana, dimana gana sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pasukan.

Kedudukan Bhatara Gana sebagai dewa penjaga di Bali dipuja dalam sebuah upacara caru yang bernama “rsi gana”. Dalam pemujaan ini, Bhatara Gana dipuja sebagai penetralisir kekuatan Butha yang dapat mengangu lingkungan.

Selain itu tujuan dari pelaksanaan caru rsi gana adalah untuk membersihkan unsur-unsur negatif yang ada disekitar tempat yang dilaksanakan upacara itu.

Adapun doa dan pemujaan yang bisa diucapkan dalam memuja Bhatara Gana yakni “om ganapati rsi putram, Bhuktyantu weda tarpanam, Bhuktyantau jagat trilokam, Suddha purna saririnam”.

Demikianlah ulasan singkat mengenai keberadaan Bhatara Gana dalam keyakinan Hindu Bali. Selain sebagai Dewanya pengetahuan (jnana), Bhatara Gana juga merupakan dewa pelindung dan penetralisir dari kekuatan-kekuatan negatif alam semesta. (SB*)

 

Comments

comments