‘Galang Kangin” Setelah 18 tahun, Kini Bicara Air

253

Suasana pembukaan pameran kelompok Galang Kangin (sumber foto bentara budaya facebook).

SULUHBALI.CO, Denpasar –– Sebanyak 13 perupa yang terhimpun dalam Komunitas Galang Kangin pameran bersama di Bentara Budaya Bali (BBB), lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel, Kabupaten Gianyar, Bali selama sepekan, 21-26 September 2014.

“Pameran tersebut mengangkat tema ‘Kesadaran Makro Ekologi: Transformasi Air dalam Karya Visual Atraktif’,” kata staf BBB yang juga penata kegiatan tersebut, Putu Aryastawa, di Denpasar.

Ia mengatakan para perupa merespons persoalan ekologis di Bali menjadi karya-karya seni kontekstual yang mereka pamerkan.

Karya-karya yang dihadirkan, katanya, mengeksplorasi tema air dalam wujud visual dua maupun tiga dimensi, sebagian besar berbentuk seni instalasi.

Pameran yang digelar oleh 13 seniman tersebut serangkaian dengan 18 tahun keberadaan Komunitas Galang Kangin.

Acara pembukaan yang dilaksanakan, Sabtu (20/9), dimeriahkan dengan pertunjukan performa seni oleh Putu Sudiana “Bonuz”, Made Bayak, dan Komunitas Galang Kangin.

Pementasan itu merespons tema pameran, sekaligus mengajak untuk membangun kesadaran baru atas ekologi, kebudayaan, dan konsep berkesenian.

10665213_806033316085861_8867115211037850849_n(1)
Suasana pembukaan pameran (sumber foto bentara budaya facebook).

Seniman yang ikut dalam pameran itu, antara lain I Made Supena, I Wayan Setem, I Wayan Naya Suanta, I Made Galung Wiratmaja, I Nyoman Ari Winata, I Dewa Soma Wijaya, I Nyoman Diwa Rupa, I Gusti Putu Muliana, I Dewa Soma Wijaya, I Made Sudana, Atmi Kristia Dewi, Made Gunawan, dan A.A. Gede Eka Putra Dela.

Bertindak sebagai kurator adalah Wayan Setem. Sejalan dengan pameran juga digelar diskusi seni rupa pada Minggu (21/9). Tampil sebagai pembicara dalam diskusi itu, kurator pameran, Wayan Setem, dan Putu Wirasa Pandya.

Diskusi akan mengetengahkan tema upaya seni kepedulian di ruang publik, sekaligus dibandingkan pula dengan apa yang disebut “konseptual seni”.

“Dalam seni kontekstual sosial seperti ini, tidak jarang wujud estetik kerap dikorbankan dan karya lebih mengedepankan sebagai timbunan pesan. Melalui ruang dialog akan diulas pula bagaimana upaya para kreator untuk memadukan pesan dan ragam ekspresi yang dipilihnya agar keduanya terpadu sebagai karya seni yang estetik, namun juga karya renungan,” ujar Putu Aryastawa.

Ia mengatakan air sebagai muasal aneka wujud kebudayaan diketengahkan dalam pemaknaan filosofisnya, berikut dihadapkan dengan masalah lingkungan yang terjadi, seperti pembalakan hutan dan pengelolaan sampah yang semrawut.

Demikian juga, katanya, tentang krisis air dan sumber daya mineral lain.

“Tujuannya semacam ajakan untuk memahami ekologi dan menumbuhkan kesadaran dalam pemanfaatan maupun pelestariannya,” katanya.

Komunitas Galang Kangin didirikan pada 1996 dan secara rutin menyelenggarakan aktivitas pameran di berbagai ruang kebudayaan. Para anggotanya juga meraih berbagai penghargaan seni rupa serta melakukan pameran di dalam dan luar negeri.

Pameran bersama dapat dimaknai sebagai peta perjalanan Komunitas Galang Kangin sebagai salah satu komunitas seni rupa yang berperan penting di Bali, terutama dalam membangun semangat kreativitas secara komunal.

“Hal yang barangkali kian memudar pada era kini yang dalam kemodernannya justru makin mempertajam perwujudan individualisme,” kata Putu Aryastawa. (SB-ant)

Comments

comments

Comments are closed.