Filosofi Bulan Mati “Tilem” pada Pemujaan Umat Hindu

541
Diskusi keagamaan oleh generasi muda pada hari tilem sasih Jyesta. |foto-skb|

SULUH BALI, Denpasar – Hari suci  Tilem dirayakan ketika bulan mati, ketika langit gelap tanpa ada sinar bulan.  Ditinjau dari pengetahuan Astronomi, pada hari suci tilem, posisi bulan berada diantara Matahari dengan Bumi sehingga suasana menjadi gelap gulita di malam hari.Upacara Tilem bermakna sebagai upacara pemujaan terhadap Dewa Surya, diharapkan semua umat Hindu melakukan pemujaan dalam bentuk persembahyangan.

Umat Hindu meyakini pada saat hari Tilem ini, mempunyai keutamaan dalam menyucikan diri dan berfungsi sebagai pelebur segala kotoran/mala yang terdapat  dalam diri manusia. Seperti Tilem Sasih Mala Jyestha yang merupakan tilem yang istimewa pada tahun saka1938 ini,  ada 13 Sasih, di mana bulan ke sebelas ini ada dobel. Inilah yang disebut “nampi sasih”, arti harfiahnya sasih yang bertumpukan. Ini pula yang membuat kalender Saka Bali khas, tak ada duanya di dunia. Umumnya untuk ritual yang hitungan harinya (pedewasan) berdasar sasih, akan dihindari. Itu sebabnya kata Jiyestha pada “sasih tambahan” ini diawali kata “Mala” yang artinya buruk.

Bukan berarti pada hari ini buruk, keistimewaan ini tidak berdampak buruk juga bagi hari tersebut, itu tergantung persepsi dari masing-masing orang. Tilem Sasih Mala Jyesta jatuh pada tanggal 5 Juni 2016, bertepatan dengan dilaksanakan acara diskusi oleh UKM Kelompok Diskusi DIPA BHAWANA UNHI. UKM Kedis Dipa Bhawana UNHI secara konsisten mengadakan acara diskusi tiap bulan, bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, yang bertempat di Pura Lokanatha Denpasar.

Diikuti oleh 30 peserta, dari SMAN 5 Dps, Putra-Putri Ajeg Kampus, dan beberapa civitas akademika UNHI Denpasar. Diawali dengan persembahyangan bersama, dan dilanjutkan dengan mendengarkan lantunan pupuh yang dinyanyikan oleh anak-anak sanggar Sunari Denpasar. Acara diskusi dimulai pukul 19.00 WITA, dengan narasumber I Wayan Wahyudi S.Si, M.Si, dan dimoderatori oleh I Kadek Satria, S.Ag., M.Pdh. Topik Diskusi kali ini, yaitu Menjaga Palemahan dalam Konsep Weda.

Hindu mewakili filsafat timur yang memberikan konsepsi yang jelas mengenai lingkungan. Atharvaveda khususnya mandal XII, tentang Prtvi sukta khusus bicara masalah ekologi dan hubungannya serta sikap manusia yang ideal terhadap alam semesta. Seperti dalam Atharvaveda (12.1.12), dinyatakan:

Mata bhumih putro’ham prtviyah
Bumi adalah ibuku dan aku adalah anaknya.

Dapat diartikan bahwa Bumi itu sendiri yang menyusui langsung keberadaan manusia, yang dinyatakan sebagai ibu, dan langit sebagai ayah. Jika bumi dan langit adalah orang tua sendiri, maka merusak bumi dan mengotori langit adalah sebuah kesalahan fatal.

Kemudian, di dalam bhagawadghita (III.1) disebutkan:
Devan bhavayatanena te deva bhavayantu vah,
Parasparam bhavayantah sreyah param avapsyatha.

Dengan melakukan ini (yadnya) engkau memelihara kelangsungan para dewa, semoga para dewata juga memberkahimu, dengan saling menghormati seperti itu, engkau akan mencapai kebajikan tertinggi.

Jika manusia mereka melakukan yadnya ‘positif’ dengan memelihara alam, maka sebagai gantinya alam juga akan melakukan yadnya untuk melestarikan keberadaan manusia. Jika mereka melakukan yadnya ‘negatif’ dengan mengeksploitasi alam, maka alam juga akan melakukan yadnya ‘negatif’ terhadap manusia dengan menghancurkannya.( tutur narasumber kepada peserta diskusi).

Setelah pemaparan narasumber, dilanjutkan dengan sesi sharing pendapat, tanya jawab, dan kesimpulan dari diskusi tersebut yaitu  Saat kerusakan lingkungan semakin parah dirasakan, maka hal yang masih bisa diupayakan adalah penemuan kembali nilai-nilai ekosentris veda, serta reinterprestasi terhadapnya sehingga sudut pandang universalnya bisa dijadikan obat mujarab bagi isu lingkungan yang berkembang belakangan ini.

Setelah diskusi usai, dilanjutkan dengan acara mendoakan alm. Bapak Drs.I Putu Gede Suata, S.Ag., M.Si sebagai salah satu tokoh hindu yang gemar membedah pustaka-pustaka kuno Bali, yang pernah sempat menjadi narasumber pada diskusi Kedis bulan februari, tepatnya pada rahinan sugihan jawa. (SB-Skb)

Follow instagram
Follow Twitter
Like Fanpage Facebook
Subscribe Youtube

Comments

comments

Comments are closed.