Fashion Show Kain “Pinawetengan”

294

Peragaan Busana kain Pinawetengan oleh para model (foto-raka)

SULUHBALI.CO, Mangupura – Corak kain Pinawetengan diambil dari guratan gambar yang ada di Watu Pinawetengan yang ditemukan dan digali pada sekitar tahun 1888 oleh penduduk Desa Kanonang. Saat ditemukan, guratan gambar tersebut berusia sekitar 1200 tahun, tepatnya pada abad ke-7, yang kemudian penduduk Desa Kanonang melakukan upacara adat pertama di Batu Pinawetengan secara resmi pada 7 Juli 1888. Kain Pinawetengan ada beberapa jenis diantaranya, jenis polyester, sifon, sutera dan tenun.

Para model saat memperagakan busana dengan kain Pinawetengan khas Minahasa (foto-raka)
Para model saat memperagakan busana dengan kain Pinawetengan khas Minahasa (foto-raka)

“Kain Pinawetengan ini merupakan motif-motif  dari Budaya Minahasa, Sulewesi Utara. Merupakan era animisme, Pinawetengan adalah suku yang sudah lama peradabannya di Sulewesi Utara, dan memang tidak pernah ter-expose lagi. Ini kan salah satu heritage, Ibu Iyarita W. Mawardi sebagai pemilik kain Pinawetengan sekaligus produser acara dan Thomas Sigar yang membuat rancangan, ingin mengangkat lagi supaya masyarakat Indonesia dan lebih luas lagi dunia internasional tahu bahwa kita punya satu lagi warisan budaya yang sangat bagus dan bernilai sangat tinggi, khususnya dari motif-motif kain tenunnya. Bahwa ternyata Sulawesi Utara juga punya kain tenunnya,” ungkap Denny Malik ditemui disela-sela acara fashion show yang memperagakan kain Pinawetengan, di Konderatu, Jalan Uluwatu, Jimbaran, Rabu malam (15/1).

Tarian dengan busana Khas Minahasa (foto-raka)
Tarian dengan busana Khas Minahasa (foto-raka)

Acara fashion show bertajuk “Lost Treasure of Minahasa” digagas oleh Dra. Herlinda Siahaan, selaku pemilik Konderatu, menampilkan rancangan Thomas Sigar. “Ini merupakan acara pertama, sebagai langkah awal untuk selanjutnya kita ingin secara rutin setiap bulan akan mengadakan acara untuk menampilkan, memperkenalkan berbagai budaya yang ada di nusantara  ini,” Dra. Herlinda Siahaan memaparkan gagasannya.

Denny Malik (foto-raka)
Denny Malik (foto-raka)

Diakui oleh Denny Malik yang juga bertindak selaku koreografer acara yang juga menampilkan beberapa tarian khas Minahasa selain fashion show, kalau dirinya awalnya juga minim informasi seputar kain Pinawetangan ini. “Karena saya diminta menterjemahkan menjadi sebuah acara pentas, baik tari maupun fashion show, terus terang saya awalnya sangat minim informasi mengenai Kain Pinawetengan ini, makanya saya coba mencari-cari informasi dari berbagai sumber, baik bertanya-tanya ke beberapa narasumber, maupun dengan membaca-baca buku.Itulah  karena informasinya sangat minim sekali, bahkan boleh dikatakan Kain Pinawetengan ini awalnya sudah hampir punah,” kata koreografer senior ini.  “Tapi akhirnya saya juga bangga, jadi tahu kalau kita sangat banyak memiliki warisan budaya yang bernilai sangat tinggi. Seperti Kain Pinawetengan ini, seperti di Bali yang memiliki kain tenun, di Minahasa, Sulewesi Utara juga punya Kain Pinwetengan dengan kekhasannya,” tambahnya. (SB-Raka).

video-gustiar

Comments

comments

Comments are closed.