Penghargaan berupa lukisan yang diberikan Erawan kepada para Penyair. |foto-bon|

SULUHBALI.CO, Denpasar -Dengan peralatan seadanya dan dihiasi dengan alat-alat musik tradisional, acara yang digelar serta dikemas sangat sederhana tetapi kelihatan hidup dengan iringan musik digital dan penataan lampu yang begitu gemerlap, I Nyoman Erawan suguhkan pertunjukan yang begitu memukau para penonton yang hadir.

Sosok seniman serba bisa itu tidak pernah henti dalam aktivitas seni, setelah sukses merefleksikan ritus seni rupa, karya seni instalasi, seni video dan lukisan dalam pameran tunggal di perkampungan seniman Ubud, kini tampil dalam kemasan unik melibatkan belasan penyair.

I Nyoman Erawan (56), seniman kondang kelahiran Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, tampil dalam sebuah pertunjukan kolaborasi bertajuk “Erawan vs Penyair Sejati: Salvation of The Soul, Ritus Bunyi Kata Rupa”.

Pagelaran dalam kemasan unik dan menarik yang terbuka untuk umum secara cuma-cuma itu akan berlangsung di Antida Sound Garden, pinggiran Kota Denpasar Sabtu, 15 Maret 2014 mulai pukul 20.00 Wita.

Ayah dari dua putra putri, masing-masing I Putu Sastra Wibawa dan Ni Made Gita Karisma itu dalam kolaborasi itu akan mempertautkan unsur-unsur seni rupa yang tecermin dalam rancang bangun panggung serta kekuatan bunyi yang dihadirkan oleh musik ritus.

erawan
Salah satu penampilan Nyoman Erawan dan para penyair. (foto iwan darmawan)

Sosok gaya Erawan dengan pembacaan puisi para penyair terpilih, yakni Umbu Landu Paranggi, Nyoman Wirata, Cok Sawitri, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, Mas Ruscitadewi, Wayan Jengki Sunarta, serta Warih Wisatsana.

Pada pertunjukan itu akan dieksplorasi kemungkinan melahirkan sebentuk “teater ritus”, yakni suatu ragam pertunjukan yang intens dan mengedepankan ciri-ciri ritual, seperti keterjagaan dan ritmis.

Upaya itu sekaligus membuka ruang untuk meluapkan kespontanan. Dengan demikian sesungguhnya pertunjukan itu berangkat dari gagasan yang sangat sederhana, yakni bagaimana menghadirkan persahabatan yang terjalin baik tahun 1990-an.

Persahabatan yang baik itu telah membangun pergaulan kreatif, saling mendorong kreativitas dan juga saling memberi semangat untuk berkarya.

“Semasa itu saya sudah mengenal mereka aktif di Sanggar Minum Kopi dengan kegiatan-kegiatan susastranya yang intens serta total,” ujar Erawan yang ditemui di studionya kawasan Sukawati, Gianyar.

Hasil diskusi Pagelaran yang unik dan menarik dengan melibatkan para penyair itu mengedepankan kespontanan, pertunjukan kolaboratif itu juga berangkat dari satu rancang dasar yang telah didiskusikan sebelumnya.

Suami dari Ni Wayan Juniasih itu bersama para penyair yang terlibat sebelumnya telah melakukan diskusi kecil. Dengan demikian diharapkan potensi dan totalitas masing-masing dapat luluh menyatu membangun keutuhan secara keseluruhan.

Selain itu menghasilkan sebentuk “ritus” dengan harapan mampu memberikan pencerahan serta turut mengharmonikan kembali kosmos, atau kehidupan sosial budaya dan politik di Bali maupun di Indonesia umum menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif.

“Saya sudah lama berteman dengan mereka, dan masing-masing adalah pekerja seni yang serius serta total. Dedikasi mereka pada kesenian tentulah akan menjadikan pertunjukan ini dilingkupi satu energi kreatif yang penuh persahabatan,” harap Wianta yang selama ini sukses menggelar pameran lukisan di tingkat lokal Bali, nasional dan internasional.

Ia menilai mitra kerjanya para penyair dan sastrawan itu adalah orang-orang kritis dan memiliki kepekaan tinggi, dengan harapan pertunjukan dapat menjadi sebentuk respon pada dinamika yang terjadi belakangan ini.

Perupa yang senantiasa menggelar performing art dan sejak dini karirnya kerap bekerja sama dan berkolaborasi dengan seniman dari berbagai jenis keahlian dan latar belakang termasuk para penyair.

Penyair Cok Sawitri yang ikut ambil bagian dalam pementasan kolaborasi itu mengungkapkan bahwa, teater ritus adalah bagian dari proses pengamatannya pada kreativitas yang dilakukan Erawan selama ini.

Berdasarkan itulah pihaknya menyakini pertunjukan yang bakal digelar merefleksikan satu ritus yang juga hidup di dalam tradisi Bali, yakni nemu gelang, yaitu bagaimana segala titik energi spiritual yang tak kasat mata dapat terwujudkan di dalam satu bentuk kebersamaan dan intensitas gerak yang padu.

tan
Tan Lioe Ie diantara karya Erawan. (foto iwan darmawan)

Dalam tradisi Bali ada yang disebut ngarejang di desa-desa tua, satu bentuk ritus di mana para penari rejang melakukan prosesi melingkar bergandengan, namun tidak saling berhadapan.

Proses menuju puncak ritmis itu melalui tahapan-tahapan berbagai bunyi-bunyian yang agung dan mistis namun tidak dihadirkan atau disajikan secara melodius, ujar Cok Wawitri yang sudah meluncurkan puluhan buku.

Elemen rupa, kata dan bunyi itu menyatu dalam satu capaian ritmis yang kuat, di mana unsur-unsur kosmos seperti langit, bumi, berikut anasir-anasir intinya saling berbaur menyatu dan memuncak pada Sang Diri.

Cok Sawitri juga mengibaratkan bahwa prosesi kolaborasi adalah sebuah upaya yang menghasilkan efek ruwatan yang dalam tahapannya mencerminkan apa yang terjadi pada kenyataan sekarang ini, yakni munculnya aneka kegaduhan dan keriuhan, baik di rumah, di jalan, di gedung parlemen maupun dalam kehidupan keseharian masyarat luas.

Prosesi nemu gelang ini, kaya akan spirit kebersamaan yang memang selama ini oleh seniman andal Nyoman Erawan dijaga dan dirawat dalam bentuk persahabatan dengan para Penyair.

Penyair Tan Lioe Ie, menyambut antusias pagelaran tersebut karena melahirkan kemungkinan tak terduga di dalam proses maupun moment pagelarannya. Kekuatan bunyi, rupa dan kata akan memperkaya dinamika yang akan terjadi.

“Dalam kespontanan ini kami masing-masing memang dengan sendirinya harus mampu menakar dan mengukur agar tetap terjadi kepaduan yang utuh,” ujar Sastrawam yang sering mengadakan lawatan ke mancanegara. (SB-ant)

Comments

comments