“Embracing Time” Catatan Perjalanan Bulan Oka

145

Bulan Oka di depan karya lukisannya. |foto-raka|

 

SULUHBALI.CO, Denpasar – Ada keunikan dan pengalaman nilai budaya pada sosok Bulan Oka, karena pada diri wanita ini mengalir darah kependetaan, seniman, sekaligus juga putri mantan orang nomor satu di Bali (alm) Prof. Dr. Ida Bagus Oka. Kini setelah berumah tangga, dengan segala aktivitasnya kerap membawanya melakukan perjalanan ke banyak tempat di belahan dunia. Perjalanan yang memberinya sentuhan warna pengalaman budaya, dari yang tradisi Bali hingga hiruk-pikuknya peradaban modern. Embracing Time, menimang waktu, sebagai jeda untuk memberi ruang untuk memberi dan mengambil sebuah nilai.

Endapan nilai dan pengalaman visual tersebut memantik nurani artistiknya untuk mencatat sebagai sebuah perjalanan yang berharga, dan dituangkan dalam karya rupa. Dalam perjalanan tersebut, ia menyaksikan, mengalami dinamika baik sebagai wanita Bali, persentuhan aktifitas dengan dinamika modern kekinian. Nilai-nilai itu dicatat dalam sketsa, kemudian mewujud menjadi sebuah karya rupa dengan pilhan warna hitam putih yang sederhana bahkan naïf.

Bulan Oka dan Ida Bagus Gede Sidharta Putra. |foto-raka|
Bulan Oka dan Ida Bagus Gede Sidharta Putra. |foto-raka|

Karya-karya hitam putih Bulan Oka, menggunakan charcoal diatas media kertas untuk menuangkan semua catatan artistiknya. “Saya kok merasa enak saja ketika  membuat karya hitam putih seperti ini,” kata wanita kelahiran Denpasar 8 Juli 1975 ini tentang karyanya. Dari yang terdekat dalam keseharian sebagai seorang wanita, alam, atraksi budaya, binatang, gaya hidup hingga tempat-tempat belahan dunia lain jadi tema karya-karyanya. “Kadang saya membuat sket di luar, namun lebih sering saya berkarya di rumah. Cuma tidak tentu, tapi kalau sudah mau membuat karya, saya tidak mau diganggu. Saya tutup pintu, sendiri di kamar berkarya sambil mendengarkan musik,” katanya tentang proses kreatifnya.

Karya-karya Bulan Oka dengan jelas memberitahukan kalau dirinya memiliki ketelitian, ketelatenan serta kesabaran yang tinggi dalam berkarya. Terlihat dari penuangan titik, garis serta sketsa.”Luar biasa sangat bagus dan menarik,” ungkap maestro Nyoman Gunarsa dengan spontan ketika memandangi karya Bulan Oka, yang juga hadir menyaksikan pembukaan pameran di Griya Santrian Gallery, Sanur, Jumat malam (12/9/2014).

Bulan Oka terlibat obrolan dengan Nyoman Gunarsa dan Jean Couteau saat pembukaan pameran. |foto-raka|
Bulan Oka terlibat obrolan dengan Nyoman Gunarsa dan Jean Couteau saat pembukaan pameran. |foto-raka|

Beberapa pengamat dan perupa yang hadir menyaksikan pameran menyebut karya-karya Bulan Oka sebagai karya dengan aliran naïf, dekoratif-figuratif. “Aliran tidak penting, yang penting bisa bebas berkarya. Kalau menjadi terikat karena aliran, akan menjadi tidak bebas lagi untuk berkarya,” maestro Nyoman Gunarsa menimpali.

Pameran yang akan berlangsung hingga tanggal 17 Oktober 2014 ini merupakan pameran tunggal ke dua Bulan Oka. Setelah sebelumnya di tahun 2007 ia memamerkan karya-karyanya dengan tema : “Bulan’s Cheerful and Spontaneous World” di Danes Art Veranda. Disamping pameran tunggal, Bulan Oka juga sering terlibat berpameran bersama seperti di Jimbaran, Sanur, Nusa Dua dan Jakarta. (SB-Raka).

Comments

comments