Melasti Jelang Hari Raya Nyepi

SULUH BALI, Pada sekitar tahun 1970 – 1980 an pelaksanaan Hari Raya Nyepi sangat jauh berbeda suasananya dengan sekarang. Ketika itu, karena merupakan Hari Raya, maka banyak warga yang justru melali (jalan-jalan) ke tempat-tempat wisata yang ada di sekitar desa. Sehingga jalanan di desa menjadi ramai oleh warga.

Hanya saja ketika itu, sudah ada larangan untuk memakai kendaraan maupun sepeda. Tapi warga masih bisa melewati desa sebelah untuk mengunjungi tempat-tempat “rekreasi” tadi. Biasanya tempat-tempat yang ramai dikunjungi adalah sungai, pantai atau lokasi yang sengaja dibuat sebagai tempat hiburan. Ada dagang, ayunan, permainan kocok-kocokan dan sebagainya.

Malam harinya, tidak menyalakan lampu. Karena saat itu, di desa belum ada listrik. Namun kembali jalan di desa jadi tempat untuk ngumpul, ngobrol sambil menyaksikan bintang-bintang di langit yang gelap itu. Setelah semua pada ngantuk, barulah bubar untuk kembali ke rumah masing-masing untuk melanjutkan melewati malam yang gelap gulita.

Barulah kemudian kita dengar ada beberapa perubahan maupun upaya agar pelaksanaan Hari Raya Nyepi semakin khusuk dan tertib. Mulai ada himbauan dan larangan untuk lewat dari batas banjar atau desa. Tapi masih boleh untuk keluar dalam batas lingkungan banjar. “Tradisi melali” saat Hari Raya Nyepi jadi hilang.

Namun, sehari sebelum Nyepi yang disebut Tawur Kesanga, disamping memang rutin adanya tradisi mecaru, mulai ada “tradisi” baru yakni kegiatan mengusung ogoh-ogoh yang digelar pada sore harinya. Kalau pada masa sebelumnya, saat sore harinya itu orang tua dibantu anak-anak keliling pekarangan membawa api obor yang terbuat dari “danyuh” (dauh kelapa kering) yang dibakar atau sering disebut dengan “meobor-obor”.

Saat ini, pelaksanaan “meobor-obor” tersebut, di beberapa tempat atau desa, hampir bersamaan dengan kegiatan mengarak ogoh-ogoh keliling desa atau banjar. Anak-anak dan remaja juga membawa obor, namun agar lebih terlihat seni, obor atau prakpak yang terbuat dari bamboo dengan bahan bakar dari minyak tanah itu ditempatkan pada barisan depan ogoh-ogoh yang disusung beramai-ramai.

Kemudian beberapa tahun terakhir, PLN, Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, siaran TV dan radio dihentikan kegiatan dam siarannya saat perayaan Hari Raya Nyepi. Jadi tidak ada lagi suara mendengung pesawat terbang terdengar di langit Bali. Tidak ada lagi siaran dari radio maupun siaran TV. Jalan-jalan pun semua sepi. Hanya pecalang yang boleh lewat karena bertugas menjaga keamanan, ketertiban di wilayah desa adat masing-masing.

Hari Raya Nyepi tidak lagi untuk “melali”. Jangankan “melali”, banyak desa-desa yang tegas melarang warganya untuk keluar rumah pada saat Nyepi itu. Namun ada satu teknologi media yang dibawa oleh smartphone yang masih memungkinkan warga untuk “melali” di dunia maya lewat internet. Beragam informasi, hiburan, komunikasi bisa dilakukan dengan alat pintar itu. “Melali” di internet inipun kini sedang diupayakan untuk dihentikan atau tidak bisa diakses saat Hari Raya Nyepi. Karena berselancar atau browsing di internet ini dianggap sebagai bepergian atau “lelungan” sekaligus hiburan, bersenang-senang atau “lelanguan” merupakan hal yang dihentikan saat Nyepi sebagai pelaksanaan Catur Brata Penyepian, disamping tidak menyalakan api “amati geni” dan tidak bekerja atau “amati karya”. (SB-Rk)

Comments

comments