Dulu Diejek dan Ragu, Kini Malah Serius Dalami Sastra Bali

Ni Putu Jati Ari Artini. |foto-raka|

 

SULUH BALI, Denpasar – Dulu begitu ia diketahui mengambil kuliah jurusan  pendidikan dan sastra agama Hindu, teman-temannya sempat melontarkan penilaian bernada mengejek, meremehkannya yang sempat membuat dirinya ragu. “Karena teman-teman dekat saya kebanyakan melanjutkan kuliah mengambil jurusan kesehatan. Waktu itu saya juga berminat kuliah kesehatan seperti teman-teman yang lain. Tapi karena pertimbangan biaya, saya juga dinasihati oleh orang tua agar mengambil kuliah yang biayanya bisa dijangkau. Lagipula saya masih punya adik, yang juga perlu biaya. Ya akhirnya pilihan saya waktu itu kuliah di IHDN,” tutur Ni Putu Jati Ari Artini.

“Ketika itu teman-teman pada bilang , buat apa kuliah ambil jurusan pendidikan dan sastra agama Hindu. Belajar bahasa dan aksara Bali juga. Kan lebih baik kuliah di kesehatan saja, lebih menjanjikan masa depannya, “ katanya sambil menirukan kalimat yang dulu dilontarkan teman-temannya kepada dirinya. Kini kelahiran Sukawati 20 Oktober 1991 ini, merasa memperoleh banyak manfaat dan kegunaan setelah mendalami dan menamatkan kuliah di jurusan pendidikan dan sastra agama Hindu. “Ternyata dalam sastra agama Hindu itu juga bisa kita dapatkan pengetahuan kesehatan dan pengobatan atau usada, seperti juga yang diperoleh oleh tema-teman yang kuliah di kesehatan itu. Disamping pengetahuan lainnya yang banyak terdapat dalam sastra agama Hindu itu,” ujarnya sambil menunjukkan buku-buku dan beberapa lontar.

Ditemui di stand lontar arena PKB, Kamis (25/6/2015), pengajar bahasa Bali dan tari di SDN 2 Kedewatan, Ubud ini sangat fasih dan bersemangat menguraikan perihal bahasa Bali dan aksara Bali. Termasuk tatwa atau filsafat yang terkandung pada masing-masing lontar yang dipajang disana. Bahkan ia dengan percaya diri dan merasa ada kebanggaan mengenakan baju kaos dan topi yang berisi aksara Bali. “Saya suka dan memang ingin belajar lebih dalam lagi menganai bahasa dan aksara Bali ini,” ungkap gadis yang ngaku juga punya hobi  nari dan jalan-jalan ini. Kemudian ia uraikan secara ringkas isi dalam lontar maupun buku terjemahannya seperti Taru Pramana, Asta Kosala Kosali, Usada dan Purana.

Keseriusannya mendalami sastra dan aksara Bali dan agama Hindu itu, ia buktikan saat ini dirinya melanjutkan kuliah di Pasca Sarjana (S2) di Universitas Hindu Indonesia (UNHI} dengan mengambil jurusan Ilmu Agama dan Kebudayaan.  Disamping kesibukannya sebagai guru dan kegitan menari di sebuah sanggar tari.

Di bidang tari, sulung dari 2 bersaudara ini pun telah menorehkan pengalaman dan prestasinya.  Berusaha dirinya agar tidak terkesan sombong,  dengan malu-malu ia ceritakan pengalamannya menari.  Yakni tahun 2011 dan 2012 yang lalu ia sempat menari membawakan tari pendet dan legong di India dan Hongkong. Namun untuk cita-citanya, dirinya bertekad tetap ingin menekuni dan bekerja pada bidang bahasa dan aksara Bali. “Saya punya keinginan kalau tidak jadi guru ya ingin bekerja di Pusat Dokumentasi Kebudayaan,” ujarnya.  (SB-Raka)

Comments

comments

Comments are closed.