Duh! | Komodo Serang Fotografer Hingga Luka Parah

280

SULUH BALI, LABUAN BAJO – Setelah ada pemberitaan seekor gajah Lampung, membanting pemiliknya di daerah wisata naik gajah di Klungkung (baca : http://suluhbali.co/gajah-lampung-ngamuk-di-klungkung-membanting-pemilik-hingga-tewas ) di Klungkung, Bali (28/4/2017)

Lagi lagi seseorang di daerah wisata, diserang seekor binatang purba komodo, di habitatnya di pulau Komodo, Flores, NTT, pada hari Rabu (3/5/2017) sekitara pukul 09.00 withttp://suluhbali.co/gajah-lampung-ngamuk-di-klungkung-membanting-pemilik-hingga-tewas/a.

Akibat  turis mancanegara asal Surabaya tersebut mengalami beberapa luka robek pada bagian kaki kirinya  sehingga mengalami pendarahan yang cukup parah. Selang beberapa menit pasca kejadian, pada bagian wajah korban mengalami lebam akibat reaksi ribuan bakteri yang berasal dari lendir mulut hewan buas komodo saat menggigit dan mencakar korban menggunakan kukunya.

Dari informasi yang dihimpun, bahwa kejadian ini berawal ketika korban yang diduga sebagai fotografer ini sudah 4 hari berada di Pulau Komodo. Ia tinggal di salah satu rumah warga di Kampung Komodo yang diketahui pemilik rumah adalah Haji Aksan.

Selama di sana, korban sudah melihat binatang komodo di Lohliang yang merupakan pusat binatang komodo sebagaimana tempat tersebut sudah biasa dikunjungi wisatawan. Namun di Lohliang, Korban tidak begitu puas melihat komodo. Karena ia minta dibawa para Guide atau biasa disebut Ranger ke tempat lain. “di Lohliang dia (korban) tidak puas melihat komodo. Dia mau liat yang di luar daerah Lohliang,” ujar seorang warga Komodo Saifuula saat dihubungi melalui sambungan seluler usai kejadian.

Menurutnya, selama berada di kampung Komodo, pemilik rumah sudah memberitahu kepada korban agar jangan pergi ke belakang pemukiman karena sangat berbahaya. Karena biasanya komodo sering merapat ki kampung warga, kalau binatang binatang tersebut sedang lapar. “Biasanyakan komodo itu makan kambing milik kita di kampung ini. Kami juga di sini selalu hati hati. Anak anak selalu kami pantau, kalau mereka bermain. Karena sering kejadian di sini komodo mangsa anak anak kami,” ujarnya.

Dia menambahkan, pagi itu, korban bangun dan tidak pamit dengan pemilik rumah untuk pergi melihat komodo yang berada di belakang kampung komodo. Karena di sana ada padang rumput dan tempat biasanya kambing berkumpul. Sesampai di TKP, korban melihat sekelompok binatang kambing sedang asik berjalan beriringan. Kemudian, korban mencoba mengabadikan momen tersebut. Selang beberapa menit kemudian, korban melihat seekor binatang komodo menghampiri kawanan kambing. Korban yang penasaran terus memperhatikan kejadian tersebut. Anehnya,  pada saat kawanan kambing lari dari penyergapan hewab buas tersebut, korban malah asik mengambil gambar dan tidak mau lari.

“Semua kambing kambing itu lari ke dalam kampung semua. Tapi bapak itu malah diam dan asik foto kejadian itu,” ujarnya. Diluar dugaan korban, tiba tiba komodo tersebut menyerang korban secara brutal dengan cara menggigit dan mencakar. Korban sempat melakukan perlawanan dengan tangan kosong. Namun, rupanya hewan buas tersebut lebih kuat dari pada kekuatan manusia. Sehingga beberapa kali korban dibanting dan terpental. Pergulatan itu sekitar 30 detik. Dan akhirnya korban bisa melolokan diri dari cengkraman komodo tersebut. Korban yang sudah bersimbah darah langsung lari menuju pemukiman warga dengan keadaan kaki pincang.  Akibat peristiwa ini, pada bagian kaki kiri korban mengalami luka robek yang cukup parah.

Korban sempat dilarikan ke postu (puskesmas) setempat. Karena keadaan korban yang semakin parah, akhirnya korban dilarikan ke Labuan Bajo dengan menggunakan Boat lokal milik warga. Dan dari Labuan Bajo diterbangkan ke Denpasar, Bali untuk dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah untuk penanganan medis.

Ironisnya, saat peristiwa ini terjadi hingga berita ini diturunkan banyak pegawai Taman Nasional Komodo yang masih belum mengetahui. Bahkan saat korban dilarikan ke Labuan Bajo itu pun menggunakan Boat lokal milik warga tidak menggunakan speadboot.

“Tidak ada satupun pegawai dari TNK yang datang untuk membantu. Jadi warga inisiatif sendiri untuk membantu korban,” ujarnya.

Peristiwa ini menjadi catatan penting untukpemerintah setempat khususnya para pegawai di TNK agar membuat zona larang sebagai tanda berbahaya. Karena bagaimana pun, pegawai di TNK mesti bertanggung jawab penuh atas keselamatan wisatawan yang datang berkunjung.  “Turis itu tidak saja ke Lohliang melihat komodo saja, tapi mereka juga suka nginap di rumah warga dan ingin merasakan bagaimana rasanya hidup di pulau komodo dengan serba terbatas dan berbahaya. Banyak turis yang nginap di rumah warga. Mereka juga sering jalan keliling kampung untuk melihat pemandangan sekitar,” ujarnya. (SB-Rio) 

 

Comments

comments