Foto Keluarga Dita Oepriarto. wajah anak anaknya di blur. (net).

SULUH BALI, Surabaya – Ledakan bom yang menewaskan 18 orang termasuk para bomber di Surabaya dan melukai 43 orang lainnya pada hari Minggu (13/5/2018). Bom meledak di Gereja yang tempatnya terpisah, tiga gereja tersebut adalah Gereja GKI Jalan Diponegoro Surabaya dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuno Surabaya serta Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya Surabaya.

Ledakan bom di hari Mingu pagi ini, mencengangkan masyarakat Indonesia dan dunia. Bagaimana tidak, kota Pahlawan Surabaya beberapa tahun ini lebih dikenal sebagai kota yang tenang dan tidak banyak warganya terkait dengan isu terorisme.

Selain itu, karena tiga ledakan terjadi hampir bersamaan, menimbulkan kesan ini sebagai serangan masif sekelompok orang. Namun saat diketahui bahwa, dari tiga TKP berbeda, ternyata masih punya hubungan darah, maka sangat miris peristiwa ini.

Satu keluarga tersebut adalah pasangan suami istri yakni Dita Oepriarto dan Puji Kuswanti serta empat anaknya yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Empat anak Dita masih bersekolah, satu masih di jenjang SMA, satu SMP, dan dua jenjang SD.

Menurut seorang yang mengenal Dita, yaitu Armuji yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya ini dan memberikan rekaman cctv yang ada di rumah makannya untuk mempermudah proses penyelidikan petugas kepolisian setempat. Dita yang baru pulang dari Suriah ini, sebelumnya dikenal sebagai sosok santun dan ramah pada warga.

Bahkan Dita terlihat bersama kedua anak lelakinya sering berboncengan naik motor menuju ke mushala untuk shalat berjamah. Meski demikian, sosok Dita yang diketahui bekerja sebagai distributor obat herbal ini diketahui tidak banyak bicara dan bersosialisasi dengan warga semenjak dua tahun terakhir. Padahal tiga tahun yang lalu Dita pernah menjadi Ketua Sub RT 2/RW 3 Kelurahan Wonorejo.

Begitu juga dengan sosok istri Dita yang tidak terlihat mencurigakan. Selain tidak memakai cadar, istri Dita jarang keluar rumah. Hanya saja yang sering keluar rumah adalah anak-anaknya untuk bermain.

“Kata tetangga lainnya, sering ada tamu di rumah Dita. Namun tetangga tidak terlalu memperhatikannya,” katanya.

Selama ini Dita tidak pernah membuat permasalahan serius dengan warga setempat. Hanya saja Dita sendiri sempat mendapat protes dari warga karena pernah membuang limbah hasil usahanya pembuatan minyak kemiri ke saluran air.

Oleh karena itu, warga setempat kaget ketika mengetahui tim Densus 88 menemukan 3 paket bom rakitan siap ledak di rumah Dita. Hasil penelusuran kepolisian, Dita diketahui adalah Ketua Sel Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya.

Memasang Bom Ditubuh Anak-anaknya

Dita diduga mengajak semua keluarganya melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Dia memasangkan bom aktif di tubuh anak anaknya. Dita sendiri diduga meledakkan diri di Gereja Pantekosta Jalan Arjuno Surabaya menggunakan mobil miliknya.

Sedangkan Puji Kuswanti, istrinya dan dua anak perempuannya diduga meledakkan diri di Gereja GKI Jalan Diponegoro. Sementara dua anak Dita yang lain yang masih belum teridentifikasi diduga meledakkan diri menggunakanan motor di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Surabaya.

Aparat kepolisian menemukan tiga bom berdaya ledak tinggi (high explosive) saat melakukan penggeledahan di rumah terduga pengebom gereja di Surabaya, di Perumahan Wonorejo Asri Blok K/22A, Rungkut, Surabaya.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan mengatakan tiga bom tersebut langsung diledakkan tim penjinak bom di rumah pelaku pengeboman. Dari tim olah TKP, bom tersebut sebelum diledakan sempat dirakit di rumah tersebut.

“Selain menemukan bom, kami juga menemukan sejumlah barang lain. Semuanya sedang diteliti,” ujarnya.

Menurut dia, rumah itu berantakan dan di bagian belakang terdapat ada anak panah dan busurnya yang menancap di papan target. Selain itu, ada juga beberapa dokumen, buku dan beberapa tulisan yang terlihat berserakan..

Hasil temuan pihak kepolisian lainnya dari penggeledaan di rumah Dita yakni sejumlah foto keluarga Dita, styrofoam yang diduga untuk mempercepat pembakaran saat bom diledakkan serta beberapa dokumen.

“Ada beberapa buku, ada beberapa tulisan, ada beberapa pesan sedang kita kumpulkan,” katanya.

Surabaya Berduka

 

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tidak mengira jika ada kejadian peledakan bom di tiga gereja di Surabaya yang menyebabkan 13 korban meninggal dunia dan puluhan warga lainnya luka luka.

Hal ini disampaikan Risma saat ikut bersama Kapolrestabes Surabaya mengunjungi lokasi rumah pelaku pengeboman di Wonorejo Asri.

Selama ini, Risma selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk warga Surabaya. Bahkan usaha yang dilakukan bersama jajaran hingga tingkat kelurahan.

Risma mengaku selama ini melayani masyarakat Surabaya dengan baik. Bahkan sejumlah pengaduan warga baik berupa jalan rusak, banjir, persoalan sekolah selalu dicarikan solusi.

“Tapi kalau ada kejadian seperti ini membuat saya sedih dan menyakitkan,” katanya.

Menurut Risma, aksi pengeboman yang dilakukan satu keluarga tersebut menyalahi ajaran Islam. Dalam kitab suci Al Quran, lanjut dia, jangankan membunuh orang, membunuh binatang, pohon itu saja tidak boleh.

“Kok sekarang kita tega. Apa yang ciptakan agama kita, Tuhan yang ciptakan semua,” katanya.

Risma mengungkapkan kesedihan mendalam atas pengebom yang terjadi di Kota Pahlawan. Hal ini dikarenakan Risma mengatakan pihaknya sudah memberikan semua yang terbaik kepada warga Surabaya.

Bahkan Risma tidak ingin orang Surabaya kelaparan, kebanjiran dan mengalami macet. Tapi kemudian semua itu dirusak oleh orang yang mengaku paling benar.

“Saya sudah melakukan segitu banyak tapi saya tidak merasa paling banar,” katanya.

Pendukung ISIS

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dalam kesempatan terpisah mengatakan pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya terkait dengan kelompok pendukung utama teroris ISIS. Kelompok ini tidak lepas dari kelompok bernama JAD-JAT, Jamaah Ansharut Daulah-Jamaah Ansharut Tauhid yang merupakan pendukung utama ISIS.

Di Indonesia, kata Tito, JAD ini didirikan oleh Aman Abdurahman yang sekarang ditahan di Mako Brimob. Pelaku pengeboman yang merupakan satu keluarga ini terkait dengan sel JAD yang ada di Surabaya, bahkan Dita tercatat adalah ketua dari kelompok tersebut.

“Kemudian aksi ini kita duga motifnya, pertama adalah di tingkat internasional ISIS ini ditekan oleh kekuatan-kekuatan, baik dari Barat, Amerika dan lain-lain,” katanya.

Jadi dalam keadaan terpojok, memerintahkan semua jaringannya di luar, termasuk yang sudah kembali ke Indonesia untuk melakukan serangan. “Termasuk di London, juga ada peristiwa, terorisme dengan menggunakan pisau di sana,” katanya.

Tito menambahkan di Indonesia, ada dua macam kelompok terkait ISIS yang menjadi ancaman, yakni JAT dan JAD yang sel-selnya ada di beberapa tempat, serta mereka yang kembali berangkat ke Suriah dan kembali ke Indonesia atau tertangkap di otoritas di Turki atau Yordania dan kembali ke indoensia.

Menurut dia, jumlah yang sudah berangkat ke Suriah tercatat lebih dari 1.100 orang dengan 500 di antaranya masih di Suriah, 103 meninggal dunia di Suriah, dan sisanya dideportasi kembali ke Indonesia.

“Itu jadi tantangan kita karena ‘mindset’ mereka ideologinya ISIS,” katanya. (SB-ant)

Comments

comments