Duh ! | Ada yang Membiarkan Keluarga Tetap Gila, Agar Dapat Warisan Lebih Banyak

805
Prof. Dr. Luh Ketut Suryani (foto wan).

SULUH BALI, Denpasar – Ada beberapa keluarga, membiarkan sanak keluarganya tetap gila, atau tetap dalam pasungan agar bisa mendapat warisan lebih banyak. Kondisi memprihatikan ini disampaikan  Prof. Dr. Luh Ketut Suryani dalam Dialog Terbuka dengan Tema Wujudkan Bali Rahayu Tanpa Pasung di gedung PHDI Bali, di denpasar, Senin (2/5/2016) yang diselenggarakan Peradah Bali.

“Jika yang bersangkutan tetap gila, maka ia tidak akan ikut dalam pembagian warisan,” ungkap Prof Suryani.

Motif  lainnya, beberapa keluarga tidak mau melepaskan pasungan yang dilakukan kepada penderita penyakit gangguan jiwa, banyak disebabkan karena pihak keluarga masih tetap ingin menerima bantuan dari pemerintah secara rutin.

Hal lain yang juga menyebabkan masih enggannya masyarakat yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa karena merasa penyakit tersebut adalah sebuah kutukan yang tidak akan bisa tersembuhkan. “Mereka merasa bahwa penderita gila karena kutukan dan tidak akan bisa disembuhkan sampai kapanpun,” imbuhnya.

Menurut data di Suryani Institute for Mental Health , tentang keberadaan penderita penyakit gangguan kejiwaan (gila) cukup mencengangkan. Yakni tahun 2013 sebanyak 3000 orang di Bali mengalami gila berat (skizofrenia).

“Ramalan kami dari pendataan yang resmi kami lakukan di Buleleng, Karangasem dan Denpasar Timur dari hasil penanganan ada 350 orang diantaranya mengalami pasung,” ungkap Suryani.

Dari penanganan yang dilakukan oleh tim Suryani Institue for Mental Health di lapangan, saat ini sebagian sudah dibebaskan dari pemasungan.

Bahkan menurut data Prof Suryani sebagaian besar penderita penyakit gila yang dipasung oleh keluarganya mengalami kondisi yang mengenaskan, bahkan yang lebih tragis dan mengerikan ada yang sampai mengalami cacat. (SB-Skb)

 

Comments

comments