Donald Trump Menang | Warga AS Lebih Pilih yang Kontroversial

942
Donald Trump (foto net).

SULUH BALI, Jakarta — Pengusaha asal New York, Donald Trump, berhasil mengalahkan rivalnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton dalam pemilihan umum presiden Amerika Serikat dengan meraih setidaknya 276 suara elektoral, demikian perhitungan dari kantor berita AP.

Meski beberapa negara bagian belum selesai melakukan perhitungan, Clinton dipastikan tidak akan mampu mengejar ketertinggalannya.

Uniknya, tidak seperti presiden presiden sebelumnya, Donald Trump tidak punya pengalaman sebagai politisi atau pernah duduk di birokrasi pemerintahan. Selain itu, Trump juga dikenal dengan berbagai pernyataannya yang kontroversial, dibandingkan ucapan yang lebih politis, baik dalam kebijakan luar maupun dalam negeri Paman Sam ini.

Clinton sendiri tidak akan berpidato mengakui kekalahannya pada saat ini dan meminta pendukungnya untuk tetap menunggu sampai semua suara dihitung, kata manajer kampanye Clinton sebagaimana dikutip dari The Washington Post.

Trump berhasil memenangi suara di sejumlah negara bagian dengan kecenderungan mengambang–bukan merupakan wilayah tradisional Partai Republik maupun Partai Demokrat dan selalu menjadi kunci dalam pemenangan kursi presiden–seperti Ohio dan Florida.

Trump bahkan secara mengejutkan juga merebut sejumlah negara bagian yang diperkirakan, oleh jajak pendapat dari Washington Post, akan dimenangi dengan aman oleh Clinton seperti Pennsylvania, Wisconsin, dan Iowa.

Pada 2012 lalu, kelima negara bagian di atas dimenangi oleh presiden petahana Barack Obama yang berasal dari Partai Demokrat.

Florida awalnya sempat dikabarkan akan dimenangi oleh Clinton karena warga keturunan Hispanik–sebuah kelompok yang tersinggung oleh pernyataan Trump bahwa para imigran ilegal adalah perampok dan pemerkosa–datang ke bilik pemungutan suara, demikian laporan Associated Press.

Dengan jumlah suara elektoral (“electoral college”) yang sangat besar, 29, Florida menjadi kunci kemenangan Trump. Warga Amerika Serikat tidak memilih presiden secara langsung melainkan sebuah kelompok bernama “electoral college” yang akan mewakili suara mereka.

Seorang calon harus memperoleh setidaknya 270 suara elektoral untuk memenangi pemilihan presiden.

Beberapa pekan menjelang pemilihan, Clinton sempat unggul jauh dari Trump dalam sejumlah jajak pedapat. Namun keunggulan itu semakin menipis, terutama setelah Biro Investigasi Federal (FBI) mengumumkan akan menyelidiki kembali skandal surat-surat elektronik Clinton.

Dalam kampanyenya, Trump berjanji akan membangun tembok di perbatasan Meksiko-Amerika Serikat untuk menghalau para pendatang dari Amerika Latin.

Visi Trump yang lain masih belum begitu jelas. Untuk perdamaian Timur Tengah, terutama di Suriah, dia mengatakan bahwa rencananya masih “rahasia.” Trump juga sempat akan menolak pemeluk Muslim untuk memasuki Amerika Serikat–meski pada akhirnya mengklarifikasi pernyataan itu.

Sementara itu dalam pemilu dewan perwakilan, Partai Republik berhasil mempertahankan dominasi dengan merebut setidaknya 224 dari 435 kursi. Perolehan ini sekaligus menyanggah sejumlah prediksi bahwa mereka akan banyak kehilangan suara. (SB-ant)

Comments

comments