Dolanan Mebalih Fragmentari “Manik Angkeran” Part 2

103

SULUH BALI, Denpasar – Sanggar Siwer Nadi Swara Denpasar menampilkan Dolanan Mebalih pragmen Tari berlakon Sang Manik Angkeran, yang merupakan cikal bakal keberadaan Segara Rupek yang ada di Jembrana, Kamis (25/6/2015).

Fragmen tari ini diawali dari kisah tentang Sang Naga Basuki yang tinggal di Gunung Agung bersahabat dekat dengan seorang Brahmana yang bernama Mpu Sidhimantra berasal dari tanah Jawa.

Karena kedekatannya dengan Sang Naga Basuki yang ada di Bali, maka diutuslah anak Mpu Sidhimantra yang bernama Sang Manik Angkeran menuju ke tanah Bali untuk mempersembahkan susu kepada Sang Naga Basuki di Gunung Agung.

Diceritakan Sang Manik Angkeran memiliki kebiasaan berjudi, ia selalu bermain sabung ayam sehingga ahirnya apa yang dimilikinya habis hanya untuk dipertaruhkan dalam perjudian.

Kemudian tibalah saatnya Sang Manik Angkeran menuruti perintah ayahnya untuk mempersembahkan susu kepada Sang Naga Basuki menuju ke Bali dengan membawa genta pemberian ayahnya sebagai tanda agar dikenali oleh Sang Naga Basuki.

Sesampai di tempat Sang Naga Basuki di Gunung Agung maka dibunyikanlah genta pemberian ayahnya, dengan demikian Sang Naga Basuki bisa megenali Sang Manik Angkeran sebagai anak dari Mpu Sidhimantra. Kemudian diceritakan maksud dan tujuannya kedatangannya yaitu mempersembahkan susu yang disuruh oleh ayahnya kepada Sang Naga Basuki.

Berkat persembahan susu itu, Sang Naga Basuki memberikan hadiah kepada Sang Manik Angkeran berupa emas permata. Namun karena naluri kesenangannya dalam berjudi masih muncul semua memberian itu belumlah cukup sehingga ia tertarik lagi untuk memotong Emas yang ada di ekor Sang Naga Basuki.

Saat Sang Naga Basuki bersiap kembali ke tempatnya semula, dengan cepat Sang Manik Angkeran langsung memotong ekor Sang Naga Basuki. Karena ulah dari Sang Manik Angkeran yang sudah keterlaluan itu, maka Sang Naga Basuki marah besar dan membuat Sang Manik Angkeran terbakar sampai menjadi abu.

Melihat hal buruk terjadi pada anaknya, Mpu Sidhimantra segera menemui Sang Naga Basuki dan memohon maaf atas kelakuan anaknya yang telah berani memotong ekor Sang Naga Basuki. Mpu Sidhimantra pun berjanji jika Sang Manik Angkeran dikembalikan kesedia kala, maka ia akan mengikhlaskan anaknya itu untuk mengabdi kepada Sang Naga Basuki.

Berkat kesaktian Sang Naga Basuki maka dikembalikanlah Sang Manik Angkeran seperti semula. Kemudian Mpu Sidhimantra memotong dan memisahkan tanah Jawa dan tanah Bali dengan menorehkan sebuah tongkat sakti miliknya agar Sang Manik Angkeran tidak bisa kembali ke Jawa lagi. Torehan tongkat itu hingga kini dikenal dengan nama Segara Rupek yang berarti laut sempit yang menghubungkan pulau Jawa dan Pulau Bali.

Pragmentari Tari Sanggar Siwer Nadi Swara Kota Denpasar ini mampu memukau penonton yang ada di Kalangan Ayodya. Sanggar yang didominasi beranggotakan anak-anak ini juga terasa spesial karena berkesempatan didatangi oleh Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika saat kunjungannya di arena PKB ke-XXXVII. (SB-Su)

Comments

comments