Diskusi |Bila Bir Dilarang Dijual di Pantai-pantai Bali?

123

Para narasumber diskusi Obrolan Warung Rakyat dari kiri Darwin/Totok/Piping. |foto-raka|

 

SULUH BALI, Denpasar – Para wisatawan yang datang ke pantai Kuta, kebanyakan  diantara mereka biasanya menikmati suasana pantai sambil diisi dengan minuman Bir. Apalagi kalau para turis sedang melakukan kegiatan surfing, minuman itu sebagai pelengkap sekaligus bentuk keakraban diantara mereka.

“Para turis minum bir, sebelum maupun sesudah melakukan surfing, itu mereka lakukan seperti melakukan chatting. Pembuka hubungan, keakraban,” ungkap Piping yang sudah lama aktif dalam kegiatan surfing di pantai Kuta.

Dia sangat keberatan bila nanti para wisatawan itu kesulitan mendapatkan minuman seperti Bir, yang sudah terbiasa tersedia di sepanjang pantai Kuta. “Apalagi saya lihat hampir ribuan warga lokal menggantungkan hidup mereka dan keluarganya dari jualan minuman disana. Mereka sudah biasa mengais rejeki dari para wisatawan dengan membawa cold-box,” imbuhnya saat diadakan diskusi dengan tema “Apa Jadinya Bila Bir Lenyap di Pantai-Pantai Bali,”di Warung Tresni, Renon, Jumat siang (13/3/2015).

Kegundahan Piping tersebut terkait dengan akan diberlakukannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol.

Mulai 16 April 2015 nanti minimarket dan pengecer lainnya di seluruh Indonesia tidak dibolehkan lagi  menjual minuman beralkohol di bawah 5 persen, termasuk bir. Minuman beralkohol golongan A tersebut hanya boleh dijual oleh supermarket atau hipermarket.

Dalam diskusi yang dipandu Iwan Darmawan itu, menghadirkan Totok, seorang dosen sosiologi politik, Darwin mewakili kalangan seniman, kalangan media, pemerhati dan pelaku pariwisata. Baik Totok maupun Darwin menyayangkan dan sangat keberatan kalau aturan yang dkeluarkan oleh Menteri Perdagangan itu memiliki dampak yang serius terutama bagi Bali yang mengandalkan pariwisata.

“Saya hidup dari dunia hiburan dari kegiatan pariwisata di Bali, dan sudah hampir 30 tahun lebih terbiasa menikmati minuman Bir. Kalau nanti minuman itu susah di dapat, ya saya seperti kehilangan sahabat dan tenaga,” kata Totok, musisi senior itu berseloroh. “Lebih baik untuk Bali kita buat aturan khusus, agar masih seperti saat ini,” tambahnya. (SB-Raka)

Tontonlah video diskusi ini. Karya www.suluhbali.co

Comments

comments

Comments are closed.