Dinkes Bali Siapkan Alat Deteksi Virus Mers-Cov

61

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dr. I Ketut Suarjaya seusai mengikuti sidang paripurna. |foto-lik|

SULUHBALI.CO, Denpasar – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dr. I Ketut Suarjaya mengatakan sudah menyiapkan alat deteksi lengkap untuk mendeteksi masuknya virus Mers-Cov yang disebutkan berasal dari Arab Saudi dan selama ini cukup meresahkan.

“Setiap yang masuk itu kalau suhunya diatas 38 sudah terdeteksi disana, dan kita sudah menyiapkan tim dokter lengkap untuk jika ada yang terdeteksi agar segera dipisahkan dan diperiksa dengan lengkap,” ujarnya saat ditemui di Denpasar, Jumat (16/5/2014).

Suarjaya juga mengatakan untuk saat ini laporan terdeteksi masih tidak ada dan masih baik-baik saja, dan terkadang laporan masuk itu setelah sampai dirumah masing-masing.

“Untuk saat ini laporan terdektesi masih tidak ada, tapi setelah sampai kerumahnya baru dia ada gejala, seperti kasus terakhir yang masuk lagi ke Rumah Sakit Sanglah pada tanggal 15 Mei 2014 pukul 22.40 atas nama inisial “NT” seorang wanita (46) asal Tuban, Badung dengan gejala batuk, sesak, panas dan riwayat umroh. Karena riwayat umrohnya ini harus kita suspect dan sedang kita isolasi di Nusa Indah. Dan gejala medisnya sudah menunjukan terduga terinveksi virus tersebut,” paparnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan pihaknya mengadakan difransialdiagnosis yang menunjukkan pasien juga menderita pembesaran pada jantung.

“Kita juga harus ada difransialdiagnosisnya memang dia ada juga pembesaran pada jantung, pada orang yang pembesaran jantung juga bisa terjadi sesak nafas, dan karena dia panas dan sesak nafas makannya kita tunggu hasil labnya tapi sejauh yang terisolasi dan terduga mers-cov semua negative,” tambahnya.

Suarjaya juga menyampaikan pihaknya telah melakukan langkah antisipasi dengan maksimal, “Sesungguhnya langkah antisipasi kita sudah maksimal, dan kita siagakan juga termasuk semua pintu masuk kedatangan yang termasuk juga Bandara Ngurah Rai yang paling kita ketatkan, dan surveilan penyakit sudah terus kita lakukan termasuk di 120 puskesmas sudah kita siapkan tenaga surveilan juga di Dinas Kesehatan semua sehingga kita bisa pantau,” jelasnya.

Ia juga mengatakan permasalahan bukan pada Tenaga Kerja Haji atau Jamaah Haji melainkan permasalahan ada pada mereka yang berangkat Umroh.

“Yang menjadi masalah adalah kalau tenaga kerja haji atau jamaah haji itu memang sudah kita pantau sejak awal mereka berangkat, dan mereka berangkat juga atas rekomendasi dari kesehatan. Kalau kesehatan tidak merekomendasikan dia tidak boleh berangkat dan begitu datang sampai dua minggunya kita pantau, tapi yang jadi masalah yang umroh karena mereka umroh juga tidak lewat kita, mereka melalui travel tetapi kita juga sudah himbau kepada semua yang umroh, kalau memang mengalami gejala panas, batuk, sesak dalam 15 hari itu harus memeriksakan diri secepatnya sekembalinya dari umroh. Dan kita juga sudah informasikan dari setahun lalu kepada para travel yang bersangkutan,” paparnya. (SB-Lik)

Comments

comments