Dilema, Sejak Dulu Ritual Hindu “Dijual” Untuk Pariwisata

526
Seminar Nasional Fakultas Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia (Unhi) bertajuk "Komersialisasi Ritual Hindu pada Paket Wisata di Bali" di Ruang Pascasarjana Unhi Denpasar, Rabu (22/3/2017) yang menghadirkan Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, Dr. Ida Bagus Darmika, MA dan Prof. Dr. I Wayan Sukayasa, M. Si. (foto-skb)

SULUH BALI, Denpasar – Perkembangan pariwisata yang telah memasuki era modern kemudian mengarah pada dilema agama pasar. Agama dan ritual menjadi komodifikasi untuk dijual sehingga akan mendukung pundi-pundi pariwisata di Bali.

Pada Seminar Nasional Fakultas Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia (Unhi) bertajuk “Komersialisasi Ritual Hindu pada Paket Wisata di Bali” di Ruang Pascasarjana Unhi Denpasar, Rabu (22/3/2017) yang menghadirkan Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, Dr. Ida Bagus Darmika, MA dan Prof. Dr. I Wayan Sukayasa, M. Si diungkap komersialisasi ritual Hindu tidak hanya saat ini, bahkan telah berkembang semenjak dahulu dan pergeseran sakral menuju pada profan dalam kepentingan pariwisata.

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda mengungkapkan sejak dahulu ritual Hindu telah menjadi komoditi pariwisata. Hal ini kemudian menurut Ida Pandita memunculkan adanya tiruan ritual Hindu yang ditujukan untuk kepentingan ke pariwisata seperti pendet penyambut tamu, PKB (Pesta Kesenian Bali), Barong Dance yang perlu untuk direnungkan kedepannya, “hal menjual di dalam ada unsur-unsur ritual agamanya” ungkap Ida Pandita.

Dr. Ida Bagus Darmika melihat fenomena adanya komersialisasi ritual untuk kepentingan pariwisata terkait dengan perkembangan jaman modern arahnya mengarah pada agama pasar. Hal ini berakibat pada segala hal termasuk agama bisa diperjualbelikan. “Jaman pasar agama pasar ciri-ciri kapital kalau punya duit semuanya bisa dibeli,” katanya.

Ia juga menambahkan keadaan yang serba dibeli dan kepentingan mobilisasi kapital yang kemudian memunculkan paket pariwisata bernuansa kapital agama pasar, “keadaan inilah yang kemudian memunculkan paket-paket pariwisata salah satunya paket Nyepi,” ungkap juga Rektor Unhi ini.

Sementara Prof. Dr. I Wayan Sukayasa, M.Si menyebutkan fenomena ini sebagai tegangan antara sakral dan profan dimana ada pergulatan antara posisi sakral dan profan, sementara disisi lain sarana banten yang secara filosofi jelas merupakan bagian dari pemujaan yang tersimbol di dalamnya memiliki arti dan makna, “Banten sesungguhnya adalah bahasa simbolik kreatif sakral yang memiliki fungsi didaktis religius-magis,” ungkap Prof. Sukayasa.

Untuk mengatasi fenomena itu, Prof. Sukayasa menawarkan tiga hal yang perlu dilakukan untuk mencegah profanisasi banten diantaranya dengan Jnana bhyudireka yaitu mendalami dan mentansmisikan secara sistematik logis ajaran agama Hindu sehingga kualitas agama membanggakan, indriya yoga marga yaitu bersama-sama bersikap hati-hati dan berusaha mengendalikan diri dan mengamalkan yoga dan tresna dosa ksya yaitu  berusaha menyadari bahwa tresna berlebihan menyebabkan terjebaj oleh dosa keduniawian. (SB-Skb)

Comments

comments